RADARTUBAN – Para ilmuwan memperingatkan bahwa dunia berpotensi kehilangan sekitar 3.000 gletser setiap tahun mulai 2040, seiring semakin cepatnya laju pencairan es akibat pemanasan global.
Fenomena ini menjadi salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim yang kian sulit dibendung.
Peringatan tersebut muncul dari hasil pemantauan jangka panjang terhadap penyusutan gletser global, khususnya gletser di luar wilayah Greenland dan Antartika, yang kini kehilangan rata-rata 273 miliar ton es per tahun.
Baca Juga: Peneliti Temukan Makhluk Aneh Seperti Babi Laut hingga Kupu-Kupu Laut di Kedalaman Samudra Antartika
Laju Pencairan Gletser Terus Meningkat
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa dalam tiga tahun berturut-turut terakhir, dunia kehilangan hingga 450 miliar ton massa gletser.
Angka ini menunjukkan percepatan signifikan dibandingkan dekade sebelumnya.
Di Eropa Tengah, misalnya, luas gletser telah menyusut hingga 39 persen dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun.
Kondisi serupa juga terjadi di Amerika Utara, di mana Gletser Sperry di Montana diperkirakan akan hampir sepenuhnya lenyap dalam waktu 30 tahun mendatang.
Baca Juga: Gunung Es Raksasa A23a Mulai Runtuh di Laut Scotia, Ancam Ekosistem dan Jalur Pelayaran
Dampak Serius bagi Air Tawar dan Permukaan Laut
Pencairan gletser tidak hanya berdampak pada hilangnya bentang alam ikonik, tetapi juga mengancam sumber air tawar bagi jutaan penduduk dunia.
Banyak wilayah bergantung pada gletser sebagai cadangan air utama, terutama saat musim kemarau.
Selain itu, pencairan gletser global telah menyumbang kenaikan permukaan air laut sekitar 2 sentimeter, sebuah angka yang tampak kecil namun berdampak besar bagi kawasan pesisir dan pulau-pulau rendah.
Gletser Tropis Papua Terancam Punah
Di Indonesia, ancaman ini nyata terlihat pada Gletser Carstensz di Papua, satu-satunya gletser tropis di kawasan Asia Pasifik.
Gletser ini diproyeksikan punah total pada 2030, setelah kehilangan sekitar 64 persen luas areanya sejak 2018.
Kondisi tersebut menjadi simbol kuat betapa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada negara-negara kutub, tetapi juga wilayah tropis.
Sorotan Pemerintah dan Ancaman Regional
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyoroti urgensi konservasi gletser saat pertemuan internasional di Tajikistan.
Ia menegaskan bahwa laju pencairan es dapat memicu bencana ekosistem regional, termasuk kekeringan, banjir bandang, dan ketidakstabilan pangan.
Sementara itu, kawasan Himalaya diprediksi akan kehilangan sebagian besar gletsernya pada 2035 jika tren pemanasan global terus berlanjut tanpa intervensi signifikan.
Masa Depan Gletser Dunia di Ujung Tanduk
Para ilmuwan memperkirakan bahwa jika suhu global meningkat lebih dari 2 derajat Celcius, maka sekitar separuh gletser dunia bisa lenyap pada tahun 2100.
Contoh ekstrem lainnya adalah Gletser Marmolada di Italia, yang diprediksi akan habis sepenuhnya pada 2040.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penurunan emisi karbon secara agresif masih dapat memperlambat laju kehancuran ini.
Tantangan terbesar, menurut mereka, terletak pada komitmen kebijakan global dan keseriusan negara-negara dalam menekan krisis iklim.
Tanpa langkah konkret dan kolaborasi internasional yang kuat, dunia berisiko kehilangan salah satu sistem penopang kehidupan terpentingnya dalam beberapa dekade ke depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni