Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Miss Universe 2025 Penuh Drama, Sanly Liu Soroti Etika dan Profesionalisme

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Jumat, 19 Desember 2025 | 02:30 WIB
Miss Universe Indonesia 2025 di putaran grand final.
Miss Universe Indonesia 2025 di putaran grand final.

RADARTUBAN - Gemerlap Miss Universe 2025 di Bangkok, Thailand, pada November lalu menjadi sorotan publik internasional.

Bukan hanya soal kecantikan, ajang ini memicu diskusi hangat terkait manajemen sponsor, profesionalisme penyelenggara, hingga aksi walk out yang dilakukan oleh perwakilan Meksiko.

Di tengah riuhnya perbincangan tersebut, Sanly Liu, Miss Universe Indonesia 2025, berbagi perspektifnya melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara (17/12).

Sebagai seorang pengusaha dan konten kreator, Sanly menekankan bahwa panggung sebesar Miss Universe bukan sekadar soal gaun indah, melainkan ujian nyata terhadap etika dan keteguhan prinsip.

Sanly mengungkapkan bahwa ketegangan sempat muncul akibat perbedaan visi antara organisasi global dan penyelenggara lokal, terutama terkait aktivitas sponsor dan tuntutan jadwal yang sangat padat.

Hal ini berdampak langsung pada kondisi fisik dan mental para kontestan yang harus tetap tampil prima di bawah tekanan tinggi.

Baginya, transparansi dalam pengelolaan sponsor sangat krusial agar peserta merasa aman dan bisa fokus pada kompetisi.

Sanly juga mengingatkan pentingnya menjaga batas antara profesionalisme kerja dan hak pribadi.

“Kalau kita diam saat diperlakukan tidak adil, berarti kita ikut melestarikan ketidakadilan itu,” jelas Sanly, mengajak peserta untuk berani bersuara tanpa melawan dengan kebencian, tetapi dengan ketegasan yang tetap beretika.

Puncak drama terjadi ketika perwakilan Meksiko memilih walk out setelah merasa direndahkan dalam sebuah interaksi yang terekam dan menyebar luas, memantik solidaritas dari sejumlah kontestan lain yang ikut meninggalkan area acara sebagai bentuk protes.

Insiden tersebut menyoroti bahwa kata-kata yang meremehkan tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak citra keseluruhan ajang yang mengklaim mengusung nilai penghormatan, inklusivitas, dan pemberdayaan perempuan.

Sanly menilai, meski organisasi pusat telah menunjukkan dukungan kepada para kontestan, ke depannya diperlukan mekanisme pengaduan resmi dan kode etik yang lebih ketat untuk melindungi martabat setiap peserta.

Serangkaian kontroversi Miss Universe 2025 lahir dari kombinasi tekanan komersial, ego kelembagaan, dan belum matangnya standar perlindungan peserta dalam skala global.

“Tekanan itu tidak selalu untuk menjatuhkan, kadang justru membentuk kita jadi versi terbaik diri sendiri, asal kita tahu kapan harus bertahan dan kapan harus berkata cukup,” tuturnya yang menegaskan bahwa keberanian peserta bersuara dapat menjadi titik balik perubahan sistem.

Dengan pembenahan ini, kontroversi Miss Universe 2025 bisa menjadi momentum pembelajaran kolektif agar masa depan kontes kecantikan lebih manusiawi, profesional, dan sejalan dengan nilai penghormatan terhadap martabat setiap peserta.  (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Sanly Liu #bangkok #Tekanan #miss universe #konflik