RADARTUBAN - Perdagangan iklan global berpotensi menjadi sarana penyebaran bahan kimia berbahaya melalui konten promosi yang menargetkan produk beracun secara masif.
Fenomena ini menyoroti risiko iklan digital lintas negara yang mempromosikan barang mengandung zat seperti PFAS, yang dikenal sebagai "bahan kimia abadi" karena ketahanannya di lingkungan dan tubuh manusia.
Apa Itu PFAS?
PFAS dan polifluoroalkil merupakan kelompok bahan kimia sintetis yang digunakan dalam berbagai produk konsumen, mulai dari kemasan makanan hingga peralatan masak anti lengket.
Zat ini sulit terurai, sehingga menumpuk di rantai makanan dan udara, dengan perdagangan global mempercepat penyebarannya ke wilayah rendah polusi seperti Eropa.
Penelitian terbaru mengungkap ikan hasil perdagangan internasional mengandung PFAS lebih tinggi, memindahkan kontaminasi dari zona tercemar ke pasar baru.
Risiko Kesehatan pada PFAS
Paparan PFAS berulang kali dapat merusak hati, mengganggu sistem endokrin, menurunkan kesuburan, dan berpotensi memicu kanker serta obesitas.
Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, zat ini terdeteksi luas di darah penduduk, mirip temuan di AS dan Eropa di mana hampir semua sampel positif.
Perusahaan seperti DuPont diketahui menyembunyikan risiko sejak puluhan tahun lalu, memicu tuntutan hukum massal.
Dampak Perdagangan Global
Perdagangan makanan laut dan produk impor memperluas jejak PFAS, dengan Eropa sebagai pusat penerima meskipun bukan sumber utama polusi.
Regulasi baru di Eropa menargetkan pelarangan bertahap PFAS kecuali untuk kebutuhan medis krusial, sementara perdagangan iklan digital global termasuk platform seperti Google Ads dapat menerimanya dengan mempromosikan produk murah beracun tanpa pengawasan ketat.
Pakar seperti Campo menekankan perlunya pengujian rutin impor untuk mencegah ancaman kesehatan masyarakat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama