RADARTUBAN – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan kelelahan mendalam yang dirasakan rakyatnya akibat konflik berkepanjangan dengan Rusia.
Dalam pernyataan bernada emosional, Zelensky menyebut banyak warga Ukraina yang berharap Presiden Rusia Vladimir Putin segera meninggal dunia, sebagai refleksi kemarahan dan penderitaan akibat perang yang tak kunjung berakhir.
Pernyataan Kontroversial dalam Pesan Natal
Ucapan tersebut disampaikan Zelensky dalam pesan Natal yang dikutip New York Post pada Kamis (25/12).
Meski tidak menyebut nama secara langsung, Zelensky merujuk pada sosok pemimpin Rusia yang dinilainya bertanggung jawab atas invasi sejak Februari 2022.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan keletihan psikologis rakyat Ukraina yang selama hampir tiga tahun hidup di bawah ancaman perang.
Namun demikian, Zelensky menekankan bahwa harapan utama rakyat Ukraina bukanlah balas dendam, melainkan terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan di tengah serangan besar-besaran Rusia yang justru terjadi pada pagi Hari Natal.
Baca Juga: Ukraina Setujui Kerangka Perjanjian Damai dengan Rusia, Konflik Bertahun-Tahun Mendekati Akhir
Serangan Drone Rusia di Hari Natal
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan 131 drone dalam kurun 24 jam terakhir.
Dari jumlah tersebut, 22 drone berhasil menghantam target, sementara 106 lainnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Ukraina.
Layanan Darurat Negara Ukraina mencatat sedikitnya satu orang tewas dan 14 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Rusia juga disebut tetap menolak wacana gencatan senjata, bahkan pada momentum hari besar keagamaan, yang memperkuat kesan tidak adanya itikad baik untuk meredakan konflik.
Zelensky turut mengecam Moskow karena terus menyerang infrastruktur energi vital Ukraina, yang mengakibatkan pemadaman listrik luas dan memperburuk kondisi kemanusiaan warga sipil.
Respons Keras dari Kremlin
Menanggapi pernyataan Zelensky, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memberikan respons keras.
Ia menyebut ucapan Presiden Ukraina sebagai pernyataan “tidak beradab dan penuh kebencian,” serta mempertanyakan rasionalitas kepemimpinan Zelensky.
Respons Kremlin ini muncul di saat yang sama ketika Zelensky kembali mengajukan rencana perdamaian baru berisi 20 poin.
Namun, seperti upaya-upaya sebelumnya, proposal tersebut kembali ditolak oleh Rusia, menandakan kebuntuan diplomasi yang masih terus berlangsung.
Konflik Ukraina–Rusia pun hingga akhir 2025 belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara tekanan internasional terus meningkat agar kedua pihak segera membuka ruang dialog demi menghindari krisis kemanusiaan yang lebih besar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni