RADARTUBAN - Saat ini kita berada dalam hiruk-pikuk konten-konten viral di media sosial.
Namun, ada satu hal yang menarik dari sana. Tepatnya di Provinsi Jiangxi, sesuatu yang menarik telah terjadi.
Melalui akun Instagram @ahquote, sebuah reels yang diunggah pada Sabtu (27/12) menarik perhatian.
Pasalnya, di dalam reels itu menunjukkan adanya inovasi baru. Sebuah gebrakan bagi ilmu pengetahuan yang dibuat oleh siswa dan guru di China.
Video itu menampilkan sekelompok guru dan murid yang sedang meluncurkan roket bertenaga air. Roket ini dibuat menggunakan botol bekas.
Ini membuktikan bahwa kreativitas dan sains bisa berjalan beriringan dengan cara yang menyenangkan dan tentunya menginspirasi.
Roket ini bukan hanya sekadar mainan sederhana, tetapi dirancang dengan dua tahap penerbangan.
Bagian pertama mendorong roket ke udara dengan tekanan air, dan tahap kedua terpisah untuk melanjutkan perjalanan lebih tinggi.
Peluncuran roket dimulai dengan tekanan air yang dihasilkan dari dalam botol. Ketika botol didorong keluar dari landasan, air yang keluar dengan cepat akan menghasilkan reaksi dorongan yang kemudian mengangkat roket ke udara.
Setelah mencapai ketinggian tertentu, tahap bawah roket berhenti, sementara bagian atasnya yang lebih ringan akan terus melanjutkan penerbangan.
Hal ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang prinsip dasar fisika, tidak hanya bergantung pada buku teks saja.
Eksperimen kreatif ini menarik perhatian banyak orang, terutama di media sosial karena penerapan prinsip fisika secara nyata melalui eksperimen sederhana, terutama tentang gaya gesekan, tekanan, dan hukum Newton tentang gerak.
Pembuatan eksperimen yang kreatif seperti ini menunjukkan bahwa bahan bekas seperti botol plastik juga bisa menjadi alat untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, memberi makna dan pengalaman secara langsung.
Ide kreatif seperti roket air ini juga selaras dengan tren pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang menekankan pada pengalaman praktek dalam memahami konsep-konsep ilmiah.
Guru dan siswa tidak hanya menembakkan roket ke langit, tetapi mereka juga menanamkan rasa ingin tahu, semangat bertanya, dan keyakinan bahwa sains dapat dimaknai melalui hal-hal yang dianggap sederhana di sekitar kita. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni