RADARTUBAN - Baru-baru ini pasukan angkatan laut Garda Revolusi Iran kembali menyita sebuah kapal tanker minyak asing di perairan Selat Hormuz.
Menurut media pemerintah Iran, kapal tersebut membawa sekitar 4 juta liter bahan bakar selundupan saat dicegat di dekat Pulau Qeshm yang berada diTeluk Persia.
Kantor berita IRNA melaporkan pejabat kehakiman provinsi telah menahan 16 awak kapal tersebut.
Tetapi hingga kini, otoritas Iran tidak menyebut nama kapal, kewarganegaraan awak kapal, serta bendera kapal yang disita pada Rabu (24/12) kemarin.
Kasus penyitaan kapal ini bukan pertama kalinya terjadi. Pasalnya, Iran kerap melakukan tindakan serupa dengan alasan penyelundupan bahan bakar, baik di selat Hormuz maupun perairan sekiranya.
Pekan lalu Teheran juga melakukan penyitaan kapal tanker di dekat teluk Oman yang dilaporkan membawa 6 juta liter solar ilegal
Sejak dulu selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima minyak dunia dikirim melalui jalur sempit ini.
Karena hal tersebut, setiap insiden kecil yang terjadi di selat Hormuz kerap memicu kekhawatiran di pasar internasional.
Iran bahkan beberapa kali terlah memperingatkan akan menutup jalur tersebut yang akan berpengaruh ke pasokan energi dunia.
Dengan alasan tersebut Armada ke 5 Angkatan Laut AS bersiaga di kawasan selat Hormuz untuk menjaga pelancar pelayaran.
Sedangkan di dalam negeri sendiri, Iran menghadapi persoalan berupa maraknya penyelundupan bahan bakar.
Harga BBM yang murah akibat subsidi ditambah melemahnya nilai tukar mata uang Iran membuat praktik penyelundupan bahan bakar ke negara tetangga semakin masif baik melalui darat maupun laut.
Ketegangan geopolitik turut memperkeruh situasi yang ada. Hubungan Iran dengan barat khususnya Israel serus memburuk sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.
Sejumlah penyitaan kapal dalam beberapa tahun belakangan dinilai berkaitan erat dengan dinamika konflik dan saling balas tekanan dikawasan Timur Tengah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni