Jelang Tahun Baru 2026, Kamboja dan Thailand Resmi Sepakati Gencatan Senjata Usai Konflik Perbatasan Berdarah

Siti Rohmah • Dipublikasikan Senin, 29 Desember 2025 | 01:35 WIB
Perwakilan Kamboja dan Thailand menandatangani kesepakatan gencatan senjata.
Perwakilan Kamboja dan Thailand menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

RADARTUBAN - Pemerintah Thailand dan Kamboja resmi menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku efektif pada Sabtu (27/12) pukul 12.00 waktu setempat.

Kesepakatan tersebut mengakhiri bentrokan bersenjata yang berlangsung selama hampir tiga pekan di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara.

Konflik yang terjadi selama berminggu-minggu itu dilaporkan menewaskan lebih dari 100 orang serta memaksa sekitar setengah juta warga sipil di Thailand dan Kamboja mengungsi dari daerah terdampak.

Dalam pernyataan bersama, Menteri Pertahanan Thailand dan Kamboja menyatakan kedua pihak sepakat mempertahankan posisi pasukan masing-masing tanpa melakukan pergerakan tambahan di lapangan.

“Kedua belah pihak menyetujui untuk mempertahankan penempatan pasukan saat ini dan menghentikan segala bentuk pergerakan lanjutan,” demikian isi pernyataan bersama yang disampaikan pada Sabtu.

Kesepakatan gencatan senjata tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Thailand, Natthaphon Narkphanit, dan Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha.

Gencatan senjata ini sekaligus mengakhiri pertempuran selama 20 hari yang disebut sebagai konflik terburuk antara kedua negara Asia Tenggara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Sehari sebelum kesepakatan dicapai, pemerintah Kamboja menuduh militer Thailand meningkatkan intensitas serangan di kawasan perbatasan yang disengketakan.

Tuduhan itu muncul meskipun kedua negara telah menggelar putaran awal perundingan militer guna meredakan ketegangan, sebagaimana dilaporkan TRT World yang mengutip media pemerintah Kamboja, Agence Kampuchea Presse.

Dalam konferensi pers di Phnom Penh pada Jumat, 26 Desember 2025, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, menyatakan bahwa operasi militer Thailand dimulai sejak dini hari dengan tembakan artileri berat.

Ia menyebut sejumlah lokasi strategis menjadi sasaran, termasuk kawasan Kuil Preah Vihear di Provinsi Preah Vihear, serta area Kuil Ta Krabey dan Ta Mone di Provinsi Oddar Meanchey.

Serangan Artileri, Jet Tempur, dan Drone

Menurut laporan Agence Kampuchea Presse yang dikutip Anadolu, Maly Socheata menuding pasukan Thailand melancarkan serangan artileri intensif disertai operasi jet tempur pada jam-jam awal.

Puluhan peluru artileri dilaporkan menghantam Desa Chouk Chey, yang kemudian diikuti dengan serangan lanjutan serta pengeboman menggunakan drone yang juga menyasar Desa Prey Chan.

Ia juga menuduh militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk melakukan serangan udara dengan menjatuhkan hingga 40 bom di wilayah Chouk Chey.

Media lokal Kamboja, Khmer Times, bahkan menayangkan video yang diklaim memperlihatkan pengerahan pasukan infanteri, tank, dan kendaraan lapis baja Thailand ke kawasan tersebut pascaserangan udara.

Belum Ada Respons Resmi dari Thailand

Hingga Jumat, pemerintah Thailand belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Kementerian Pertahanan Kamboja maupun laporan media setempat.

Namun, sehari sebelumnya, militer Thailand melaporkan temuan empat ranjau darat tambahan di dekat lokasi seorang prajurit Thailand terluka akibat ledakan ranjau di Provinsi Surin.

Dalam pernyataan Angkatan Darat Kerajaan Thailand yang diunggah melalui platform X, disebutkan bahwa ranjau-ranjau tersebut dipasang berurutan di sepanjang jalur yang digunakan pasukan dan berada sekitar 30 sentimeter dari titik ledakan awal.

Situasi ini berkembang setelah Thailand dan Kamboja menggelar perundingan militer pertama pada Rabu di Provinsi Chanthaburi, Thailand.

Pertemuan yang berlangsung kurang dari satu jam tersebut menjadi kontak resmi pertama antara pejabat militer kedua negara sejak bentrokan kembali pecah pada 8 Desember 2025, sehari setelah dua tentara Thailand terluka dalam insiden perbatasan.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
gencatan senjata thailand kamboja Konflik perbatasan