Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Operasi Penangkapan Maduro Berdarah: 32 Tentara Kuba Tewas Dihantam Serangan Militer AS

M Robit Bilhaq • Selasa, 6 Januari 2026 | 05:00 WIB
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez.

 

RADARTUBAN - Pemerintah Kuba menginformasikan bahwasanya terdapat sebanyak 32 personel militernya meninggal dunia akibat serangan dalam skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat di wilayah Venezuela pada hari Sabtu (3/1).

Operasi militer tersebut berujung pada diringkusnya Presiden Nicolas Maduro.

Menanggapi tragedi tersebut, Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, secara resmi menetapkan tanggal 5 dan 6 Januari sebagai hari berkabung nasional (4/1).

Hal tersebut juga sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi para serdadu yang tewas.

Menurut Diaz-Canel, para tentara tersebut telah menunaikan kewajiban mereka dengan penuh kehormatan serta memperlihatkan sebuah perlawanan yang dianggapnya sebagai simbol nyata dari semangat solidaritas internasional yang dimiliki bangsa Kuba.

Pihak Havana menjelaskan bahwa 32 prajurit tersebut gugur saat sedang mengemban tugas resmi berdasarkan permintaan dari otoritas Venezuela.

Keberadaan mereka di sana merupakan bagian dari kerangka kesepakatan kerja sama bilateral antara kedua negara tersebut.

Selain itu, pernyataan resmi juga disampaikan oleh pemerintah Venezuela, adapun isi pernyataan tersebut yaitu pemberian penghormatan bagi 32 kombatan asal Kuba yang telah mengorbankan nyawa mereka saat menjalankan tugas dalam misi pertahanan dan kerja sama tersebut.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah memaparkan bahwa terdapat banyak personel keamanan asal Kuba yang selama ini ditugaskan untuk mengawal Maduro telah tewas dalam serbuan militer pada hari Sabtu tersebut.

Trump juga memberikan informasi bahwa Nicolás Maduro dan juga istrinya Cilia Flores, telah berhasil diringkus dan langsung diterbangkan menuju Amerika Serikat.

Pasangan tersebut dilaporkan telah sampai di New York pada Sabtu malam dan saat ini berada dalam status tahanan di Metropolitan Detention Center yang berlokasi di Brooklyn.

Saat ini keduanya harus menghadapi serangkaian dakwaan federal di Amerika Serikat yang berkaitan dengan keterlibatan dalam perdagangan gelap narkotika serta dugaan kolaborasi dengan kelompok-kelompok kriminal yang telah dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Washington.

Menanggapi tuduhan-tuduhan tersebut, Maduro secara tegas menampik seluruh poin dakwaan yang dialamatkan kepadanya.

Sementara itu, Pemerintah Venezuela mendesak agar presiden dan ibu negara mereka segera dibebaskan tanpa syarat.

Pihak otoritas di Caracas memandang bahwa operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut termasuk bentuk pelanggaran yang sangat nyata dan mutlak terhadap kedaulatan nasional Venezuela.

Perlu diketahui, bahwa penangkapan seorang kepala negara oleh militer negara asing merupakan peristiwa yang sangat langka dan memiliki dampak sistemik pada hukum internasional serta stabilitas ekonomi kawasan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kuba #nicolas maduro #presiden #Negara #Amerika Serikat #venezuela