RADARTUBAN - Awal tahun kecerdasan buatan milik xAI, Grok mendapatkan banyak kritik tajam dari berbagai pihak.
Setelah Prancis dan India mengecam Grok karena dugaan memproduksi konten deepface bernuansa seksual, kali ini Malaysia iku menyuarakan hal yang sama.
Mengutip dari TechCruch, Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia mengatakan tengah menyelidiki dampak buruk yang ditimbulkan dari Grok.
Pihaknya mengatakan telah mencatat berbagai kritik dan masukan dari sejumlah pihak.
Lebih lanjut, otoritas Malaysia juga menyayangkan oknum tak bertanggungjawab yang menggunakan AI untuk menghasilkan konten tak senonoh.
Meskipun Grok sendiri telah mengakui perbuatannya melanggar standar etika dan hukum di AS, tetapi kritik terus bermunculan.
Pasalnya, tidak jelas siapa yang harus bertanggungjawab atas permintaan maaf dari Grok tersebut.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan dari Grok tidak menjawab isu akuntabilitas, mengingat sistem AI tidak bisa dimintai pertanggungjawaban layaknya manusia atau perusahaan.
Pendiri xAI, Elon Musk angkat bicara mengenai hal ini. Dia mengatakan bahwa siapapun yang menggunakan Grok untuk memebuat konten tak senonoh akan menghadapi konsekuensi hukum sebagaimana pengunggah konten ilegal lainnya.
Sedangkan pemerintah India gerak cepat dengan memerintahkan X untuk membatasi Grok memproduksi konten cabul. Selain itu, India juga memberi tenggat waktu selama 72 jam dengan ancaman pencabutan 'safe harbor' jika platform tersebut tidak patuh. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama