RADARTUBAN - Peristiwa alam yang cukup dahsyat kembali mengguncang wilayah Jepang pada hari Selasa, (6/1).
Sebuah guncangan tektonik yang berkekuatan magnitudo 6,2 dilaporkan telah mengguncang wilayah tersebut pagi hari.
Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan Japan Meteorological Agency (JMA), getaran utama dari gempa bumi ini terjadi tepat pada pukul 10.18 waktu setempat.
Melalui pemantauan instrumen seismik, titik pusat dari aktivitas bumi ini terdeteksi berada di kawasan Prefektur Shimane, sebuah wilayah yang terletak di bagian pesisir Laut Jepang.
Mengutip laporan dari media lokal The Japan Times, besarnya guncangan yang dirasakan di permukaan tanah mencapai level intensitas kuat 5 berdasarkan standar skala intensitas seismik unik milik Jepang atau disebut "skala Shindo".
Perlu dipahami bahwa skala shindo berbeda dengan ukuran magnitudo.
Skala intensitas seismik Jepang secara khusus dirancang untuk mendeskripsikan seberapa hebat permukaan bumi bergoyang serta dampaknya secara langsung terhadap stabilitas bangunan, infrastruktur, maupun reaksi manusia.
Ketenangan warga kembali terusik hanya dalam hitungan menit setelah guncangan pertama mereda.
JMA melaporkan munculnya gempa susulan yang terjadi sekitar sepuluh menit kemudian, tepatnya pada pukul 10.28 waktu setempat.
Terjadi juga gempa kedua yang tercatat memiliki kekuatan yang sedikit lebih rendah namun tetap signifikan, yakni dengan magnitudo 5,1.
Menurut otoritas setempat, gempa susulan ini memiliki daya rusak yang terukur pada level intensitas bawah 5 pada standar skala seismik mereka.
Hal ini menandakan bahwa meskipun kekuatannya menurun, getaran yang dihasilkan masih cukup kuat untuk menggoyahkan benda-benda dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat di sekitar Prefektur Shimane.
Meskipun terjadi dua kali guncangan yang cukup kuat dalam waktu yang sangat berdekatan, pihak otoritas meteorologi Jepang segera memberikan pernyataan yang menenangkan bagi warga di wilayah pesisir.
Mereka memberikan penegasan secara resmi bahwa, berdasarkan analisis data gelombang laut dan parameter gempa yang ada, baik guncangan utama bermagnitudo 6,2 maupun guncangan susulan bermagnitudo 5,1 sama sekali tidak memiliki potensi untuk memicu gelombang tsunami.
Oleh sebab itu, JMA memutuskan untuk tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami bagi pelabuhan maupun wilayah pemukiman di sepanjang garis pantai sekitar lokasi pusat gempa.
Hingga berita ini diterbitkan dan disebarluaskan, otoritas terkait masih terus melakukan pemantauan intensif di lapangan.
Sampai saat ini, belum ada laporan resmi yang masuk mengenai adanya korban jiwa, luka-luka, maupun kerusakan infrastruktur yang berarti akibat peristiwa alam di Shimane tersebut.
Petugas berwenang biasanya memerlukan waktu untuk menyisir wilayah yang terdampak guna memastikan kondisi fasilitas umum, pembangkit listrik, serta keamanan warga pasca guncangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni