Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Amerika Serikat Pegang Kendali Penuh di Venezuela dan Menutup Peluang Pemilu

M Robit Bilhaq • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:41 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan kepastian bahwa Venezuela tidak akan melaksanakan pemilihan umum dalam jangka waktu dekat.

Trump Menilai, situasi di Venezuela saat ini masih belum kondusif untuk menyelenggarakan proses pemungutan suara yang demokratis.

Dalam sebuah sesi wawancara, Trump menjelaskan bahwa saat ini fokus utamanya adalah memulihkan kondisi negara tersebut terlebih dahulu, karena saat ini rakyat dianggap belum memiliki sarana yang memadai untuk memberikan suara mereka.

Trump memprediksi bahwa dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk upaya untuk menstabilkan kembali Venezuela, dan mengibaratkan proses ini sebagai tindakan merawat sebuah negara agar kembali pulih dan sehat, yang membutuhkan periode waktu tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah munculnya klaim dari Trump sebelumnya mengenai keberhasilan operasi militer Amerika Serikat dalam mengamankan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.

Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memegang kendali sementara atas Venezuela, yang mencakup pengerahan kekuatan militer apabila hal itu memang diperlukan.

Kendati demikian, Trump memberikan klarifikasi bahwa langkah-langkah tersebut bukan berarti Amerika Serikat sedang berada dalam status berperang dengan Venezuela.

Trump mejelaskan ahwa musuh yang dihadapi saat ini bukanlah negara tersebut, tetapi para pelaku perdagangan narkoba yang dianggap telah merugikan Amerika Serikat dengan mengirimkan narapidana, pecandu narkoba, hingga pasien rumah sakit jiwa ke wilayah AS.

Mengenai sektor ekonomi, khususnya energi, Trump membuka peluang bagi adanya sokongan dana dari pemerintah AS untuk membantu perusahaan-perusahaan minyak dalam membangun kembali infrastruktur energi di Venezuela.

Menurut prediksinya proyek perbaikan ini dapat rampung dalam waktu kurang dari satu setengah tahun.

Meski menyadari bahwa biaya yang diperlukan akan sangat fantastis, Trump mengusulkan skema di mana perusahaan minyak akan memberikan pendanaan awal yang nantinya akan diganti oleh pemerintah atau melalui pendapatan yang dihasilkan.

Trump telah menyusun tim pejabat tinggi yang akan mengelola keterlibatan Amerika Serikat di Venezuela. Nama-nama yang disebutkan antara lain:

• JD Vance (Wakil Presiden)

• Marco Rubio (Menteri Luar Negeri)

• Pete Hegseth (Menteri Pertahanan)

• Stephen Miller (Wakil Kepala Staf Gedung Putih)

Trump meyakini bahwa yang tim yang dibentuknya tersebut memiliki kompetensi yang saling melengkapi di bidangnya masing-masing.

Namun, ketika dikonfirmasi mengenai siapa yang memegang kendali paling puncak atas situasi di Venezuela, Trump dengan tegas menyebutkan dirinya sendiri.

Di saat yang bersamaan dengan pernyataan Trump, Nicolas Maduro telah menjalani proses hukum di pengadilan New York.

Maduro menyatakan tidak bersalah atas berbagai tuduhan kriminal federal, seperti konspirasi impor kokain dan narkoterorisme.

Serta tetap bersikukuh bahwa dirinya adalah pemimpin sah Venezuela, namun, di Venezuela sendiri, Delcy Rodriguez telah resmi dilantik sebagai presiden sementara untuk mengisi kekosongan jabatan pasca penangkapan Maduro.

Trump mengungkapkan bahwa Rodriguez telah menjalin kerja sama dengan pihak berwenang Amerika Serikat, meskipun membantah adanya komunikasi formal dengan pihak Rodriguez sebelum operasi penangkapan Maduro dilakukan, Trump menyatakan bahwa AS akan segera menentukan nasib sanksi yang selama ini dijatuhkan kepada Rodriguez.

Trump juga mengakui adanya sejumlah pihak di internal Venezuela yang sebenarnya ingin melakukan negosiasi untuk melengserkan Maduro, namun pihak AS memilih untuk mengambil jalur operasi militer tersebut.

Terkait hubungan komunikasinya dengan Rodriguez, Trump tidak memberikan jawaban pasti apakah sudah berbicara langsung.

Namun Trump menonjolkan peran Marco Rubio yang memiliki hubungan personal sangat kuat dengan Rodriguez.

Didukung oleh kemampuan Rubio dalam berbahasa Spanyol secara fasih, selain itu Trump juga memberikan peringatan bahwa opsi militer lanjutan tetap terbuka apabila Rodriguez di masa depan memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan AS.

Lebih lanjut, Trump membantah atas laporan Washington Post yang menyebutkan bahwa dirinya menyingkirkan tokoh oposisi Maria Corina Machado dari persaingan kepemimpinan.

Dalam konteks ini, Trump juga sempat melontarkan kritik terkait status Machado sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun lalu dengan menyebut bahwa ia seharusnya tidak memenangkan penghargaan tersebut.

Langkah berani Trump tersebut memicu pertanyaan dari sejumlah anggota Kongres, baik dari kubu Demokrat maupun Republik, mengenai dasar hukum pengerahan militer tanpa adanya otorisasi baru.

Trump menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan persetujuan tambahan dari Kongres untuk mengirim pasukan ke Venezuela.

Trump merasa telah memiliki dukungan yang cukup kuat di parlemen dan beranggapan bahwa para anggota Kongres sudah memahami serta mendukung langkah yang diambil pemerintah sejak awal. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Amerika Serikat #militer #venezuela #donald trump