Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Meski Berstatus Tahanan di AS, Eks Presiden Venezuela Nicolas Maduro Tetap Mengaku Pemimpin Sah Venezuela

M Robit Bilhaq • Rabu, 7 Januari 2026 | 08:47 WIB
Nicolas Maduro mengaku masih menjadi pemipin sah Venezuela
Nicolas Maduro mengaku masih menjadi pemipin sah Venezuela

RADARTUBAN - Pada hari Senin (5/1) Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, tampil di hadapan hakim Amerika Serikat dengan kondisi kaki terbelenggu dan mengenakan seragam tahanan.

Dalam kesempatan tersebut, Maduro menegaskan statusnya sebagai pemimpin sah Venezuela meskipun saat ini sedang menghadapi serangkaian tuduhan berat yang berpotensi memberikan hukuman penjara seumur hidup.

Dibantu penerjemah, Maduro menyampaikan pembelaannya dengan nada suara yang meninggi sebelum akhirnya diinterupsi oleh Hakim Alvin Hellerstein.

Maduro menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan merupakan pribadi yang baik yang masih menjabat sebagai presiden di negaranya.

Sebelumnya Maduro diamankan melalui operasi militer Amerika Serikat yang berlangsung dramatis beberapa hari sebelumnya.

Saat berada di ruang sidang, dirinya terlihat mengenakan pakaian penjara berwarna oranye dan krem serta sandal.

Selama proses hukum berlangsung, Maduro tampak sibuk mencatat poin-poin penting sementara tim hukumnya mempersiapkan argumen untuk menghadapi perselisihan hukum yang diperkirakan akan berjalan sangat alot.

Maduro menghadapi empat dakwaan pidana tingkat federal, yang mencakup:

• Konspirasi terorisme narkotika.

• Konspirasi pengiriman kokain ke Amerika Serikat.

• Kepemilikan senjata api mesin.

• Kepemilikan perangkat peledak.

Menurut laporan dari media Korea Times, masing-masing dari tuduhan tersebut memiliki ancaman hukuman maksimal berupa kurungan seumur hidup.

Pengacara Maduro, Barry Pollack, menginformasikan kepada hakim bahwa mereka akan mempersoalkan legalitas dari tindakan penangkapan atau penculikan militer yang dilakukan terhadap kliennya dalam proses persidangan yang panjang.

Cilia Flores, Istri Maduro, juga menyatakan dirinya tidak bersalah atas tuduhan serupa.

Meski tidak terjerat dalam dakwaan terorisme narkoba, agenda persidangan berikutnya bagi pasangan ini telah ditetapkan yaitu tanggal 17 Maret mendatang.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri sudah lama memandang Maduro sebagai pemimpin diktator yang tidak sah sejak pemilu tahun 2018 yang dianggap penuh dengan kecurangan.

Penangkapan Maduro menjadi bentuk campur tangan Washington yang paling memicu perdebatan di wilayah Amerika Latin sejak peristiwa invasi Panama yang terjadi hampir empat dekade silam.

Di luar area pengadilan, terjadi polarisasi massa yang tajam, kelompok pendukung Maduro terlibat adu argumen dengan pihak yang menginginkan kejatuhannya,salah satu pendukungnya, Sherry Finkelman.

Dia menyatakan kegeramannya atas tindakan Amerika Serikat terhadap sosok yang ia anggap sebagai kepala negara terpilih.

Sebaliknya, warga Venezuela yang menetap di Amerika Serikat seperti Alejandro Rojas merasa emosional dan berharap penangkapan ini menjadi jalan baginya untuk bisa kembali ke tanah air dan berkumpul kembali dengan keluarga.

Sebenarnya Kasus hukum Maduro sudah dimulai sejak tahun 2020 melalui dakwaan perdagangan narkoba yang melibatkan pejabat pemerintahannya dan kelompok pemberontak Kolombia.

Saat ini, Maduro mendekam di sebuah fasilitas penahanan di Brooklyn yang dikenal memiliki reputasi suram.

Dalam berkas dakwaan terbaru, pihak kejaksaan dari Distrik Selatan New York menuduh Maduro sebagai pemimpin tertinggi dari sebuah kartel yang diisi oleh pejabat-pejabat Venezuela.

Maduro diduga menjalin kerja sama dengan organisasi kriminal berbahaya, termasuk:

• Kartel Sinaloa dan Los Zetas dari Meksiko.

• Kelompok paramiliter FARC dari Kolombia.

• Geng kriminal Tren de Aragua dari Venezuela.

Pihak jaksa menuduh bahwa sebagai penguasa, Maduro membiarkan praktik korupsi yang bersumber dari perdagangan kokain demi keuntungan pribadi, keluarga, serta lingkaran kekuasaannya.

Disinyalir Maduro juga mengatur jalur distribusi narkoba, memanfaatkan kekuatan militer untuk mengawal pengiriman, memberikan perlindungan bagi kartel kekerasan, hingga menggunakan sarana kepresidenan untuk operasional penyelundupan narkoba.

Meskipun tuduhannya sangat berat, para pakar hukum berpendapat bahwa jaksa memiliki tugas berat untuk membuktikan keterlibatan langsung Maduro dalam operasional tersebut, terutama jika selama ini dirinya menjaga jarak dari proses pengambilan keputusan teknis di lapangan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#presiden venezuela #pemimpin sah Venezuela #tahanan #nicolas maduro #Amerika Serikat #militer