Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Trump Minta Demonstran Rebut Pemerintahan Iran, AS Siap Dukung dan Ancam Sanksi Berat

M Robit Bilhaq • Rabu, 14 Januari 2026 | 14:03 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

RADARTUBAN - Situasi di kawasan Timur Tengah kembali mengalami panas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan seruan terbuka agar para demonstran di Iran menduduki berbagai instansi pemerintahan.

Lewat pernyataan yang mengandung nada intimidasi tersebut, Trump menjanjikan dukungan dari pihak Washington sekaligus memperingatkan adanya sanksi serius bagi para petinggi Iran yang dinilai telah melakukan tindakan pelanggaran.

Pernyataan tersebut Trump sampaikan dalam pidatonya di Detroit Economic Club pada Selasa waktu setempat, yang kemudian dibagikan juga melalui media sosial Truth Social.

Dalam kesempatan itu, Trump menyuarakan dukungan tanpa ragu bagi gerakan rakyat di Iran dan mendorong mereka untuk terus melakukan aksi protes serta merebut kendali atas lembaga-lembaga negara jika hal tersebut mungkin untuk dilakukan.

Trump juga menginstruksikan para demonstran untuk mencatat identitas pihak-pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap massa, dengan jaminan bahwa individu-individu tersebut nantinya akan menerima konsekuensi yang sangat berat.

Awal dari timbulnya gejolak massa yang terjadi di Iran yaitu merosotnya nilai tukar mata uang mereka secara tajam sejak akhir bulan Desember sebelumnya, mengenai data korban yang jatuh, terdapat perbedaan laporan yang cukup signifikan.

Pihak media internasional dan kelompok aktivis menyebutkan bahwa angka kematian mencapai ribuan jiwa, namun data pemerintah setempat hanya melaporkan angka di kisaran ratusan.

Terkait perbedaan informasi tersebut, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah melakukan pengecekan data secara akurat sebelum mengambil tindakan balasan yang tepat.

Mengenai rincian bantuan yang direncanakan, Trump memberikan penjelasan yang mencakup upaya pengucilan ekonomi terhadap Iran.

Trump mengisyaratkan bahwa dukungan AS bisa diwujudkan dalam berbagai skema, termasuk tekanan ekonomi melalui penerapan tarif dagang bagi negara mana pun yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Teheran dengan tujuan untuk memperlemah posisi pemerintah Iran.

Selain langkah ekonomi, Trump juga membuka peluang untuk melakukan operasi militer, Trump mengingatkan kembali strategi kebijakan luar negeri yang pernah diambilnya dahulu, seperti upaya intervensi di Venezuela serta operasi penumpasan pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, dan Jenderal Iran, Qasem Soleimani. Trump secara tegas menyampaikan bahwa orientasi utamanya adalah mencapai kemenangan mutlak dalam perselisihan ini.

Merespons tekanan tersebut, Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat bersama Israel sebagai pihak yang merancang kerusuhan di dalam negeri mereka.

Teheran menganggap fenomena yang terjadi saat merupakan bentuk perang terorisme yang digerakkan oleh kekuatan asing, selain itu, otoritas Iran mengeluarkan ancaman balasan yang menyasar personel militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah apabila pihak Washington berani melakukan campur tangan fisik secara langsung.

Sementara itu, Rusia sebagai mitra dekat Iran menyampaikan kecaman keras terhadap sikap yang ditunjukkan oleh Trump, lewat juru bicaranya, Maria Zakharova, Rusia menuding pihak Amerika Serikat sedang berupaya meruntuhkan kedaulatan Iran melalui pola revolusi warna.

Menurutnya, Barat sengaja memanfaatkan krisis ekonomi Iran yang sebenarnya terjadi akibat dampak dari sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat sendiri.

Sebagai dampak dari meningkatnya situasi konflik ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah merilis peringatan dengan level tertinggi yang meminta warganya agar segera keluar dari wilayah Iran.

Kebijakan darurat tersebut kemudian disusul oleh sejumlah negara lain, di antaranya Australia, Kanada, Prancis, serta Jerman, dengan pertimbangan adanya ancaman penangkapan secara sepihak dan kemungkinan pecahnya konflik bersenjata yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#iran #presiden amerika #militer #donald trump