RADARTUBAN- Ketegangan geopolitik global kembali meningkat tajam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras.
Dia akan memberlakukan tarif impor 25 persen akan diberlakukan terhadap negara mana pun yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.Ancaman itu diumumkan langsung melalui akun Truth Social milik Trump.
Dia turut menegaskan, kebijakan tersebut akan diterapkan secara otomatis dan tanpa pengecualian bagi negara yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Langkah ekstrem itu disebut sebagai bentuk hukuman atas tindakan represif pemerintah Iran dalam menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran di dalam negeri, yang dilaporkan telah menelan ribuan korban jiwa.
China Bereaksi Keras
Pernyataan Trump segera memicu reaksi keras dari China. Beijing menyatakan tidak akan tinggal diam jika kepentingan ekonominya terganggu.
Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan bahwa negaranya siap mengambil langkah balasan untuk melindungi hak dan kepentingan nasional.
Melalui unggahan di media sosial X, Liu memperingatkan bahwa konflik perdagangan hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak.
“Perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang,” tulisnya.
Ia juga menegaskan bahwa proteksionisme, tekanan ekonomi, dan kebijakan koersif bukan solusi, melainkan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
China Aktor Kunci Dagang Iran
Posisi China dalam isu ini sangat strategis. Negeri Tirai Bambu merupakan mitra dagang terbesar Iran, khususnya di sektor energi.
Pada 2024, sekitar 77 persen total ekspor minyak Iran diserap oleh pasar China. Fakta itu membuat Beijing berada di garis depan jika kebijakan tarif Trump benar-benar dijalankan.
Tak hanya China, sejumlah negara lain juga berpotensi terdampak, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, serta Uni Emirat Arab yang selama ini masih menjaga hubungan dagang dengan Iran.
Sanksi Nasional, Bukan Lagi Perusahaan
Kebijakan Trump kali ini dinilai berbeda dari sanksi-sanksi sebelumnya. Jika dahulu pembatasan hanya menyasar perusahaan atau entitas tertentu, kini sanksi bersifat menyeluruh terhadap negara.
Artinya, seluruh produk ekspor negara yang masih bertransaksi dengan Iran akan dikenai tarif tinggi saat masuk ke pasar Amerika Serikat.
Langkah tersebut dinilai berpotensi memicu gelombang perang dagang baru yang skalanya jauh lebih luas.
Protes Massal dan Penumpasan Berdarah di Iran
Ancaman Trump tak lepas dari situasi di dalam negeri Iran yang terus memburuk.
Gelombang demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan ekonomi kini berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut perubahan rezim.
Pemerintah Iran merespons dengan langkah drastis. Akses internet nasional diputus, sementara aparat keamanan dan militer dikerahkan untuk menekan massa.
Berdasarkan laporan organisasi aktivis hak asasi manusia yang dikutip Associated Press, sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas akibat tindakan aparat, termasuk warga sipil dan petugas keamanan.
Ancaman Krisis Global
Kombinasi konflik politik Iran, sanksi ekonomi Amerika Serikat, serta perlawanan China berpotensi menyeret dunia ke pusaran krisis baru.
Jika ancaman tarif 25 persen benar-benar diterapkan, bukan hanya hubungan AS–Iran yang memburuk, tetapi juga rantai perdagangan global yang bisa terguncang hebat.
Dunia kini menunggu: apakah langkah Trump akan menjadi tekanan diplomatik semata, atau justru menjadi pemicu perang dagang terbesar dalam satu dekade terakhir. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni