RADARTUBAN - Amerika Serikat (AS) secara tiba-tiba mengadakan pertemuan langka dengan puluhan pemimpin militer dari berbagai negara di Belahan Bumi Barat di Washington.
Pertemuan yang dipimpin Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gabungan Militer AS, dijadwalkan pada 11 Februari mendatang.
Pertemuan ini menunjukkan peningkatan perhatian strategi pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap keamanan kawasan tersebut.
Sebanyak 34 pemimpin militer senior dari negara-negara seperti Denmark, Inggris, dan Prancis telah diundang.
Agenda utama mencakup koordinasi memerangi perdagangan narkoba dan organisasi kriminal lintas negara yang semakin membahayakan.
Pernyataan resmi dari kantor Jenderal Caine menyebutkan, para pemimpin akan membahas kemitraan yang kokoh, kolaborasi berkelanjutan, dan upaya kolektif melawan organisasi kriminal serta aktor eksternal yang mengancam stabilitas kawasan.
Ini merupakan kali pertama Pentagon mengumpulkan sejumlah besar pejabat militer dari wilayah Barat dalam skala besar, melebihi pertemuan kecil biasa di Amerika Latin.
Ahli keamanan Adam Isacson dari Washington Office on Latin America (WOLA) menilai, pemerintah Trump menuntut komitmen lebih tinggi dari militer kawasan tersebut terkait prioritas AS.
Pertemuan aslinya direncanakan lebih awal, namun ditunda akibat ancaman badai salju di Washington. Selain itu, ada pertemuan seperti kejadian pertukaran informasi intelijen dengan Inggris terkait operasi antik narkoba di Karibia.
Pertemuan ini juga bertujuan mengurangi pengaruh negara seperti Iran dan Rusia di kawasan Barat, di tengah situasi Venezuela yang tegang. Terdapat indikasi ancaman tersirat bagi militer yang tidak sejalan dengan prioritas AS.
Biasanya, pertemuan ini memperbaiki komunikasi dan menyelaraskan strategi penanganan ancaman keamanan masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama