RADARTUBAN – Otoritas kesehatan India melaporkan dua tenaga medis terinfeksi virus Nipah di sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi tak jauh dari Kolkata, wilayah Benggala Barat.
Salah satu korban dilaporkan dalam kondisi kritis, sehingga pemerintah setempat langsung menerapkan langkah darurat untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Terpapar Saat Bertugas di Rumah Sakit
Kedua perawat tersebut diketahui bekerja dalam satu tim pada akhir Desember 2025.
Mereka mulai mengalami gejala berupa demam tinggi dan gangguan pernapasan pada awal Januari 2026.
Petugas menduga keduanya tertular dari seorang pasien dengan keluhan pernapasan berat yang meninggal dunia sebelum sempat menjalani pemeriksaan laboratorium, sehingga kasus indeks masih dalam proses penelusuran.
Satu Perawat Koma dan Dirawat Intensif
Sekretaris Utama Departemen Kesehatan Benggala Barat, Narayan Swaroop Nigam, mengungkapkan bahwa salah satu perawat kini berada dalam kondisi koma dan menjalani perawatan intensif.
Hasil penyelidikan awal mengarah pada paparan virus saat keduanya menangani pasien di Rumah Sakit Narayana, Barasat.
Ratusan Kontak Dilacak, Puluhan Dikarantina
Sebagai langkah pencegahan, otoritas kesehatan langsung melakukan pelacakan kontak secara ketat.
Sebanyak 180 orang telah menjalani tes, sementara 20 orang yang dikategorikan berisiko tinggi ditempatkan dalam karantina selama 21 hari.
Meski hasil tes awal menunjukkan negatif, pemeriksaan lanjutan tetap akan dilakukan sesuai protokol kesehatan.
Pemerintah Imbau Waspada
Kementerian Kesehatan India mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan mengikuti seluruh arahan petugas medis.
Upaya ini dilakukan untuk mencegah munculnya klaster baru, mengingat virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi, bahkan bisa mencapai 75 persen.
Baca Juga: Antisipasi Masuknya Virus Nipah, Bandara Ngurah Rai Perketat Pengawasan Wisatawan India
Bahaya Virus Nipah
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), virus Nipah dapat menimbulkan gejala mulai dari demam, sakit tenggorokan, batuk, dan sesak napas, hingga komplikasi berat seperti radang otak, kejang, dan koma.
Penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi seperti kelelawar dan babi, maupun dari manusia ke manusia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni