RADARTUBAN - Di Provinsi Jiangsu, China, terdapat satu desa yang menarik perhatian dunia karena transformasinya dari kemiskinan ekstrem menjadi desa yang kaya raya, bahkan disebut “terkaya di China”.
Desa ini bernama Huaxi, sebuah tempat yang telah menjadi simbol keberhasilan pembangunan ekonomi pedesaan di negara tersebut.
Huaxi Village yang didirikan pada tahun 1961, dulunya hanyalah sebuah desa kecil yang hampir tidak memiliki aset ekonomi.
Namun, langkah perubahan drastis dimulai ketika Wu Renbao, seorang sekretaris partai desa, memimpin penduduk untuk mulai mengembangkan industri lokal seperti baja, tekstil, dan manufaktur.
Strategi ini kemudian diperluas hingga mencakup berbagai sektor seperti energi, teknologi tinggi, pertanian modern, dan layanan finansial.
Model pembangunan ini sangat unik. Kelebihan Huaxi terletak pada bentuk kepemilikan kolektif dari aset-aset perusahaan desa yang menghasilkan keuntungan besar, dan penduduk lokal adalah pemegang saham dari semua perusahaan tersebut.
Karena itu, setiap keluarga bukan hanya mendapatkan rumah dan kendaraan, tetapi juga berpartisipasi dalam pembagian keuntungan melalui dividen dan gaji yang kompetitif, serta berbagai fasilitas sosial seperti pendidikan dan kesehatan gratis.
Salah satu fakta ikonik dari Huaxi adalah bahwa setiap keluarga memiliki rumah besar (villa), minimal satu mobil, dan memiliki tabungan yang tinggi di bank. Sesuatu yang hampir mustahil dibayangkan ketika desa tersebut masih sangat miskin beberapa dekade lalu.
Bahkan, komunitas ini memiliki jalan-jalan berjejer vila monumental, hotel mewah, hingga fasilitas umum yang modern yang tidak kalah dengan kawasan kota besar.
Perubahan ini juga didorong oleh transformasi ekonomi China secara lebih luas sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan.
Dengan pesatnya pertumbuhan industri dan investasi, desa-desa seperti Huaxi menjadi uji coba bagi model pembangunan yang menggabungkan ide kolektivisme dan ekonomi pasar, dan sampai saat tertentu, model ini memberi hasil yang luar biasa dibandingkan rata-rata desa lain di negara tersebut.
Walaupun Huaxi sering disebut sebagai “desa terkaya di dunia”, tidak lepas pula kritik terhadap model ini, misalnya kekhawatiran tentang kontrol ketat atas aset penduduk, peran pekerja migran yang tidak mendapatkan hak yang sama, atau resiko ketergantungan terhadap pertumbuhan ekonomi desa.
Namun, apa yang dicapai Huaxi memberikan pelajaran penting tentang perubahan struktural ekonomi desa dan bagaimana kolaborasi kolektif bisa menghasilkan kemakmuran yang signifikan dalam skala komunitas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni