RADARTUBAN – Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) resmi mengumumkan pensiunnya astronot senior Sunita “Suni” Williams setelah 27 tahun mengabdi di dunia antariksa.
Pengumuman tersebut disampaikan NASA pada Selasa (20/1), dengan masa pensiun efektif sejak 27 Desember 2025.
Keputusan ini menandai akhir perjalanan panjang salah satu astronot perempuan paling berpengaruh dalam sejarah penerbangan luar angkasa Amerika Serikat.
Misi Terakhir yang Berujung Drama
Misi terakhir Sunita Williams semula dirancang singkat. Ia terlibat dalam uji coba kapsul Boeing Starliner yang dijadwalkan hanya berlangsung delapan hari.
Namun, masalah serius pada sistem propulsi membuat kapsul tersebut dinyatakan tidak layak untuk kembali ke Bumi.
Akibatnya, Williams bersama rekannya, Butch Wilmore, terpaksa menetap di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama hampir sembilan bulan.
Keduanya akhirnya kembali ke Bumi pada Maret 2025 dengan menumpang kapsul SpaceX Crew-9 milik Elon Musk. Wilmore lebih dulu mengakhiri kariernya pada Agustus 2025, disusul Williams beberapa bulan kemudian.
Rekor Luar Biasa di Antariksa
Sepanjang kariernya, Sunita Williams mencatat total 608 hari berada di luar angkasa.
Capaian tersebut menjadikannya astronot Amerika Serikat dengan durasi misi terlama kedua, setelah Peggy Whitson.
Ia juga memegang rekor sebagai astronot perempuan AS dengan waktu spacewalk terbanyak, yakni lebih dari 62 jam berjalan di luar wahana antariksa.
“Luar angkasa adalah hal paling keren yang saya cintai,” ujar Williams dalam pernyataan resminya.
Warisan Seorang Pionir
Sejumlah kolega dan tokoh antariksa, termasuk astronaut dan pengusaha Jared Isaacman, memberikan pujian atas dedikasi dan kontribusi Williams dalam pengembangan penerbangan antariksa berawak.
NASA menilai kontribusi Sunita Williams telah menginspirasi generasi baru ilmuwan, insinyur, dan astronot di seluruh dunia.
Dedikasinya meninggalkan warisan penting dalam sejarah eksplorasi luar angkasa Amerika Serikat.
Pensiunnya Williams sekaligus menutup karier gemilang seorang pionir antariksa yang pernah mengalami salah satu misi paling dramatis dalam sejarah ISS. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni