RADARTUBAN – Upaya Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok dalam pasokan mineral kritis dinilai tidak akan cepat terwujud melalui potensi tambang di Greenland.
Meski wilayah otonom Denmark itu dikenal kaya akan cadangan logam tanah jarang, berbagai tantangan—mulai dari teknologi hingga pengolahan—membuat eksploitasi mineral di Greenland masih jauh dari tahap realisasi komersial.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.847 per Dolar AS, Trump Redam Isu Greenland Bikin Dolar Melemah
Kekayaan Mineral Greenland yang Menggoda
Greenland tercatat memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedelapan di dunia, dengan estimasi mencapai 1,5 juta ton.
Cadangan tersebut mencakup sejumlah endapan besar, seperti Kvanefjeld dan Tanbreez.
Kvanefjeld, yang merupakan endapan daratan terbesar ketiga di dunia, menyimpan lebih dari 11 juta ton cadangan dengan kadar logam tanah jarang mencapai 1,43 persen.
Sementara itu, Tanbreez diperkirakan memiliki sekitar 28,2 juta ton bijih.
Tak hanya logam tanah jarang, Greenland juga kaya akan bijih besi, emas, uranium, serta mineral khas Arktik seperti eudialyte.
Mineral ini berpotensi dimanfaatkan untuk produksi magnet permanen yang banyak digunakan dalam teknologi tinggi.
Namun, tantangan pengolahan masih menjadi hambatan utama. Investor pertambangan asal New York, Amvest Terraden, menegaskan bahwa hingga kini belum ada negara maju yang mampu mengolah eudialyte secara efektif menjadi oksida tanah jarang.
Di sisi lain, dominasi Tiongkok di sektor ini masih sangat kuat.
Negeri Tirai Bambu menguasai sekitar 90 persen kapasitas pengolahan global, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai pemain utama dalam ekspor logam tanah jarang pascaperang dagang dengan AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menandatangani sejumlah kesepakatan mineral kritis dengan negara-negara seperti Australia, Arab Saudi, Thailand, Republik Demokratik Kongo, dan Ukraina dalam setahun terakhir.
Meski demikian, Nadrowski dari Amvest menilai keunggulan Tiongkok terletak pada pendekatan strategis dan penguasaan rantai pasok secara menyeluruh.
Sementara itu, negara lain—termasuk Amerika Serikat—dinilai masih tertinggal.
Greenland, meski menjanjikan, belum bisa langsung menjadi penyelamat Washington dalam waktu dekat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama