RADARTUBAN – Kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir dunia diproyeksikan melonjak signifikan hingga 1.446 gigawatt listrik (GWe) pada tahun 2050.
Lonjakan ini menandai kebangkitan energi atom di tengah dorongan global menuju transisi energi rendah karbon.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan kapasitas operasional nuklir global dapat mencapai 950 gigawatt (GW) pada 2050 dalam skenario tinggi.
Angka tersebut setara dengan 2,5 kali lipat dari kapasitas 372 GW pada 2023, dengan dorongan utama berasal dari pengembangan reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR).
Sementara itu, laporan Down to Earth yang dikutip Kompas memproyeksikan kapasitas nuklir dunia berpotensi mencapai puncak 1.446 GWe jika negara-negara berhasil memenuhi target perpanjangan usia reaktor dan pembangunan unit baru.
Baca Juga: Ambisi AI Mark Zuckerberg: Meta Borong Energi Nuklir 6,6 Gigawatt untuk Pusat Data
Proyeksi ini bahkan melampaui komitmen global untuk menggandakan kapasitas nuklir hingga 1.200 GWe.
Ekspansi terbesar diperkirakan berasal dari China, Prancis, Rusia, India, dan Amerika Serikat. Lima negara tersebut diproyeksikan menyumbang hampir 980 GWe, sekaligus menjadi motor utama pertumbuhan nuklir global.
Di luar itu, negara-negara berkembang juga menunjukkan minat baru dengan target tambahan kapasitas sekitar 157 GWe.
Dari reaktor yang saat ini beroperasi, sekitar 189 GWe berpotensi tetap beroperasi hingga 60 tahun pada 2050. Selain itu, sekitar 213 GWe lainnya diperkirakan dapat diperpanjang masa operasinya hingga 80 tahun.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, dunia membutuhkan koneksi jaringan rata-rata 144 GWe per tahun pada periode 2030-an hingga 2050-an.
Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan laju pembangunan reaktor pada dekade 1970-an.
Meski banyak pemerintah telah menyatakan komitmen penambahan kapasitas hingga sekitar 542 GWe dan didukung proyek-proyek yang telah diidentifikasi, sebagian besar rencana tersebut masih bersifat aspiratif.
Tantangan utama meliputi kesiapan rantai pasok, proses perizinan, serta ketersediaan tenaga kerja terampil.
Bahkan dalam skenario rendah IAEA, kapasitas nuklir global tetap diproyeksikan meningkat 40 persen menjadi 514 GW.
Pertumbuhan ini didorong oleh pasar negara berkembang, khususnya China, yang diperkirakan menyumbang 40–50 persen dari total penambahan kapasitas baru.
Peningkatan kapasitas nuklir dinilai krusial untuk menggantikan sumber energi beremisi karbon tinggi sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dunia di masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama