RADARTUBAN – Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2) resmi berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan besar.
Pembicaraan tersebut belum mampu melahirkan terobosan konkret, khususnya terkait program nuklir Teheran.
Pertemuan Tak Langsung Lewat Mediator Oman
Delegasi kedua negara tidak melakukan pertemuan langsung. Diskusi berlangsung melalui perantara diplomat Oman sebagai mediator.
Meski suasana perundingan disebut berlangsung konstruktif, belum ada kesepakatan maupun konsesi nyata dari kedua pihak.
Iran Sebut Awal yang Baik
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai pertemuan tersebut sebagai “awal yang baik” karena masing-masing pihak telah menyampaikan pandangan secara terbuka. Namun, ia mengakui bahwa pembahasan masih berada pada tahap awal.
Baca Juga: Ledakan Hebat Guncang Gedung 8 Lantai di Bandar Abbas, Iran
Ekspektasi Rendah Sejak Awal
Laporan The Wall Street Journal yang dikutip Kompas.com menyebutkan bahwa ekspektasi terhadap perundingan ini memang rendah sejak awal.
Hal itu dipengaruhi ketegangan hubungan Iran–AS pascakonflik bersenjata yang terjadi pada Juni 2025.
Isu Nuklir Jadi Fokus Utama
Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, menempatkan isu nuklir sebagai fokus utama perundingan.
Sementara itu, Iran menegaskan hanya bersedia membahas program nuklir dan menolak memasukkan isu lain, seperti rudal balistik maupun keterlibatan proksi regional.
Ancaman dan Skeptisisme
Araghchi menyampaikan bahwa langkah lanjutan dari perundingan ini akan ditentukan setelah masing-masing pihak melakukan konsultasi di ibu kota negaranya.
Sebelumnya, pejabat AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, memperingatkan Teheran mengenai potensi risiko militer apabila tidak ada kemajuan berarti dalam diplomasi.
Para analis regional menilai Oman tetap menjadi lokasi netral yang efektif untuk mempertemukan kedua pihak, meski format perundingan tidak langsung ini masih menuai skeptisisme.
Dunia Menanti Kelanjutan Dialog
Kini, perhatian dunia tertuju pada kemungkinan kelanjutan dialog tersebut, di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus memanas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni