RADARTUBAN - Harga Bitcoin terjun lebih dari 6 persen dalam waktu singkat pada Sabtu (28/2) sore, terseret suasana 'risk-off' akibat serangan militer Israel terhadap Iran.
Nilai kripto terbesar dunia itu sempat merosot dari level 65.000 dollar AS ke kisaran 63.000 dollar As, setara Rp 1 miliar per koin, berdasarkan pantauan CoinMarketCap.
Investor kripto ramai melakukan aksi jual setelah berita serangan gabungan Israel ke Iran menyebar luas.
Volatilitas tinggi ini memaksa banyak posisi long ditutup paksa, memperparah tekanan harga di tengah likuiditas tipis akhir pekan.
Situasi serupa pernah terjadi di konflik Timur Tengah sebelumnya, di mana Bitcoin jatuh sebelum pulih beberapa hari kemudian.
Sementara Bitcoin ambruk, aset safe-haven seperti obligasi pemerintah, emas, dan dolar AS justru melonjak tajam.
Analis menilai kripto masih dipandang berisiko tinggi saat krisis geopolitik membesar, terutama fase awal eskalasi. Kekhawatiran konflik meluas ke Selat Hormuz juga ikut meresahkan pasar global.
Prospek Pemulihan Tergantung Diplomasi
Pengamat memperingatkan tekanan jual bisa berlanjut jika konflik Israel-Iran membesar, tapi peluang rebound muncul jika diplomasi berhasil meredam situasi.
Investor disarankan pantau perkembangan Timur Tengah, karena Bitcoin sensitif terhadap ketidakpastian global seperti ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama