Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tragedi Harimau di Chiang Mai: 72 Ekor Mati Dalam Wabah Virus Hebat

Amaliya Syafithri • Minggu, 1 Maret 2026 | 19:30 WIB

Potret Harimau Jawa
Potret Harimau Jawa

RADARTUBAN - Baru-baru ini, dunia konservasi satwa sangat dikejutkan dengan kematian massal 72 ekor harimau di dua taman wisata terkenal di Chiang Mai, Thailand Utara.

Peristiwa tragis ini terjadi dalam kurun 8–19 Februari 2026, membuat otoritas setempat, pakar kesehatan hewan, serta pecinta satwa bekerja keras untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Lokasi dan Kronologi Kejadian

Kematian massal itu terjadi di dua fasilitas di provinsi Chiang Mai, yaitu Tiger Kingdom Mae Rim dan Tiger Kingdom Mae Taeng, tempat wisata yang terkenal karena pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan harimau.

Antara tanggal 8 hingga 19 Februari, tercatat total 72 harimau mati dari dua lokasi ini, dengan 51 di Mae Taeng dan 21 di Mae Rim.

Otoritas setempat segera melakukan pemeriksaan dan pengawasan setelah sejumlah harimau mulai menunjukkan gejala sakit sebelum kemudian ditemukan mati secara mendadak.

Peristiwa ini memaksa kedua fasilitas untuk ditutup sementara agar proses penanganan dan investigasi dapat berjalan dengan tuntas.

Virus Distemper dan Infeksi Sekunder

Hasil laboratorium menunjukkan bahwa kematian massal harimau itu disebabkan oleh virus canine distemper (CDV), yang biasanya ditemukan pada anjing, tetapi dapat menular ke kucing besar yang sistem kekebalannya lemah.

CDV ditemukan bersama dengan infeksi bakteri Mycoplasma, yang memperburuk kondisi kesehatan satwa.

Awalnya sempat muncul kekhawatiran bahwa wabah itu merupakan flu burung (avian influenza), namun hasil uji genetik membantah dugaan tersebut.

CDV yang menginfeksi harimau dalam kasus ini tidak dilaporkan menular ke manusia, meskipun pihak berwenang tetap melakukan pemantauan terhadap orang-orang yang sempat kontak dekat dengan satwa.

Para dokter hewan mengkhawatirkan bahwa faktor perkawinan sedarah (inbreeding) di antara harimau di fasilitas wisata itu bisa melemahkan sistem imun mereka.

Di samping itu, kondisi penempatan harimau dalam area yang relatif sempit dan dekat dengan manusia diduga mempercepat penyebaran virus.

Upaya Penanggulangan dan Penanganan

Setelah wabah tersebut, pihak berwenang Thailand menerapkan sejumlah langkah darurat, seperti isolasi dan karantina harimau yang masih hidup.

Pembersihan dan disinfeksi area kandang secara menyeluruh.
Pemantauan staf dan pengunjung yang kontak dengan satwa setidaknya selama 21 hari.

Semua bangkai harimau telah ditangani dengan protokol ketat termasuk pembakaran atau penguburan untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Dampak dan Pelajaran yang Ditinggalkan

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa fasilitas wisata satwa liar perlu menerapkan standar kesehatan yang sangat tinggi.

Interaksi manusia dengan hewan secara langsung tanpa pengawasan medis ketat berpotensi mempercepat penyebaran penyakit zoonotik antar spesies.

Selain itu, peristiwa ini menggarisbawahi pentingnya vaksinasi, pemeriksaan kesehatan rutin, dan standar kesejahteraan tinggi bagi satwa yang ditangkar, khususnya predator besar yang bisa sangat rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui kontak dekat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#tiger #virus #thailand #harimau