RADARTUBAN - Pemerintah Korea Utara secara resmi menanggapi agresi militer yang dilakukan aliansi Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran, yang disebut turut berujung pada wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei.
Operasi udara tersebut dilangsungkan pada Sabtu, sementara konfirmasi terkait meninggalnya Khamenei dipublikasikan pada Minggu.
Disebut Operasi Ilegal dan Langgar Hukum Internasional
Pyongyang melayangkan kecaman keras dengan menyebut gempuran tersebut sebagai operasi militer tidak sah yang melanggar hukum internasional.
Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, rezim Korea Utara menilai peristiwa itu sebagai bukti nyata karakter “liar” yang menyerupai kelompok kriminal dan melekat pada otoritas di Washington.
Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri yang disebarluaskan media pemerintah KCNA pada Senin (2/3), ditegaskan bahwa serangan militer terhadap Iran merupakan bentuk invasi yang melanggar hukum internasional secara total serta penghinaan terhadap kedaulatan negara berdaulat.
Aliansi AS–Israel juga dituding menyalahgunakan kekuatan militer demi ambisi dan dominasi global.
Hubungan AS–Korut Masih Tegang
Hubungan antara Amerika Serikat dan Korea Utara sendiri telah lama berada dalam kondisi permusuhan.
Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir, Washington dilaporkan berupaya membuka kembali jalur dialog tingkat tinggi dengan Pyongyang.
AS masih menaruh harapan agar pertemuan puncak antara Donald Trump dan Kim Jong Un dapat kembali terlaksana.
Kim sebelumnya disebut tidak menggubris berbagai tawaran dialog tersebut. Namun pekan ini, ia menyatakan kedua negara berpeluang menjalin hubungan lebih baik, dengan syarat Washington bersedia mengakui status nuklir Pyongyang.
Perkembangan ini menambah dinamika baru dalam konstelasi geopolitik global yang tengah memanas akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni