RADARTUBAN - Majelis Ahli Iran resmi mengangkat Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel.
Penunjukan ini diumumkan Senin (9/3) dengan suara bulat dari 88 ulama, di tengah perang yang memasuki pekan kedua.
Proses pemilihan berlangsung kilat setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan udara awal konflik. Mojtaba, putra kedua yang selama ini berpengaruh di balik layar, mengungguli kandidat lain seperti Alireza Arafi dan Seyed Hassan Khomeini.
Ia dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kelompok garis keras yang kini diperkirakan akan dominan.
Baca Juga: Iran, Imtaq, dan Iptek
AS Soroti Kepemimpinan Mojtaba Khamenei
Presiden AS Donald Trump sempat menyebut Mojtaba sebagai sosok "tidak dapat diterima", tapi Tehran justru menjadikannya sinyal perlawanan.
Penunjukan garis keras ini menandakan Iran pilih jalur konfrontasi ketimbang kompromi dengan AS-Israel.
Pengamat memprediksi peran IRGC bakal membesar, dengan represifikasi domestik lebih ketat dan balasan militer yang tak kenal kompromi.
"Mojtaba lebih keras dari ayahnya dan punya alasan kuat untuk balas dendam," kata Alan Eyre, pakar Iran eks-diplomat AS.
Baca Juga: Tak Mau Tunduk! PM Spanyol Pedro Sanchez Tantang Donald Trump Soal Perang Iran
Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah Meningkat
Risiko eskalasi tinggi, termasuk potensi Mojtaba jadi target serangan Israel. Peluang negosiasi damai dianggap minim, dengan fokus Tehran pada pertahanan garis keras di tengah krisis terbesar sejak Revolusi Islam 1979.
Situasi Timur Tengah kian memanas, dunia pantau langkah Tehran selanjutnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni