Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Minyak Dunia Tembus US$ 113 per Barel, Krisis Timur Tengah Picu Kepanikan Pasar Energi Global

Tulus Widodo • Senin, 9 Maret 2026 | 16:15 WIB

 

Ilustrasi minyak dunia yang harganya Kembali merosot
Ilustrasi minyak dunia yang harganya Kembali merosot

RADARTUBAN - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Senin pagi (9/3), memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi global.

Hingga pukul 09.20 WIB, minyak mentah jenis Brent crude oil tercatat menyentuh US$ 113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 113,25 per barel.

Lonjakan ini menandai fase baru reli minyak yang berlangsung sangat agresif sejak akhir Februari. Dalam waktu kurang dari dua pekan, harga minyak melesat lebih dari 40 dolar per barel, sebuah kenaikan yang membuat pelaku pasar global kembali waspada terhadap potensi krisis energi.

Reli Ekstrem dalam Dua Pekan

Pergerakan harga minyak menunjukkan akselerasi yang luar biasa cepat.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pada 25 Februari, harga Brent masih berada di kisaran US$ 70,85 per barel. Dua hari kemudian naik tipis menjadi US$ 72,48, sebelum mulai meroket ke US$ 77,74 pada 2 Maret dan US$ 81,4 pada 3–4 Maret.

Setelah itu, reli berubah menjadi lonjakan tajam: 

Sementara itu, WTI juga bergerak serupa, dari US$ 65,42 pada 25 Februari menjadi US$ 113,25 hari ini.

Lonjakan ini memperpanjang reli luar biasa setelah minyak mentah Amerika Serikat tercatat naik sekitar 35 persen hanya dalam satu minggu—kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Pemicu utama lonjakan harga adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.

Fokus utama pasar tertuju pada Selat Hormuz—jalur pengiriman energi paling vital di dunia.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak global biasanya melewati selat sempit ini setiap hari. Gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut dapat langsung mengguncang harga energi internasional.

Produksi Timur Tengah Mulai Terganggu

Ketegangan geopolitik tidak hanya memicu kepanikan pasar, tetapi juga mulai berdampak langsung pada produksi minyak.

Kuwait, salah satu produsen terbesar di OPEC, mengumumkan pemangkasan produksi dan output kilang sebagai langkah antisipasi setelah muncul ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Gangguan lebih besar terjadi di Irak. Menurut laporan Reuters, produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan negara tersebut turun drastis sekitar 70 persen.

Produksi yang sebelumnya mencapai 4,3 juta barel per hari kini merosot menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari.

Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan produksi minyak lepas pantai masih berjalan, namun distribusi dan kapasitas penyimpanan mulai tertekan akibat gangguan rantai pasok.

Perusahaan energi nasional Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) menyebut operasi produksi darat masih stabil, meski situasi logistik mulai menjadi perhatian.

Harga Bisa Melonjak Lebih Tinggi

Sejumlah analis pasar memperkirakan reli minyak belum selesai.

Dalam analisis yang dikutip Reuters, harga Brent berpotensi bergerak menuju US$ 120 hingga US$ 128 per barel jika ketegangan geopolitik terus memburuk.

Sementara itu, WTI berpotensi kembali mendekati level puncak tahun 2022 di sekitar US$ 130,50 per barel.

Jika skenario tersebut terjadi, pasar energi global bisa memasuki fase tekanan yang lebih berat, terutama bagi negara pengimpor minyak.

AS Berusaha Menenangkan Pasar

Pemerintah Amerika Serikat mencoba meredakan kekhawatiran pasar.

Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz diperkirakan dapat kembali normal dalam beberapa minggu mendatang.

Menurutnya, kemampuan Iran untuk mengganggu kapal tanker telah mulai dilemahkan.

Namun Wright mengakui kondisi pasar energi global saat ini masih jauh dari stabil.

Alarm Baru bagi Negara Pengimpor Energi

Lonjakan harga minyak di atas US$ 110 per barel menjadi alarm serius bagi banyak negara, terutama negara pengimpor energi yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Jika krisis di Timur Tengah terus memanas, dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor—mulai dari inflasi global, biaya logistik, hingga harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Pasar kini menunggu satu hal: apakah ketegangan geopolitik mereda, atau justru berubah menjadi krisis energi global berikutnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#as #harga minyak dunia #timur tengah #Energi Global #iran #Israel