RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terkait rencananya melancarkan serangan militer besar terhadap Iran dalam kurun waktu satu pekan mendatang.
Langkah tersebut disebut sebagai respons atas lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh tindakan Iran memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.
Penutupan selat tersebut membuat pasokan energi global terganggu. Bahkan, Amerika Serikat disebut terpaksa membeli minyak mentah dari Rusia untuk menutupi kebutuhan energi domestik.
Situasi ini dinilai kontradiktif mengingat Rusia saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi dari sejumlah negara Barat.
Baca Juga: Karnaval Italia Viral di Media Sosial, Patung Benjamin Netanyahu dan Donald Trump Tuai Sorotan
Pernyataan Trump Berubah
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News, Trump sempat menyatakan konflik di kawasan tersebut telah berakhir dan menjanjikan keamanan bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ia bahkan menyatakan kesiapan Amerika Serikat untuk mengerahkan pengawalan militer bagi kapal-kapal dagang jika situasi keamanan di wilayah perairan tersebut memburuk.
Namun perkembangan terbaru menunjukkan konflik justru semakin meluas dan melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Tak Mau Tunduk! PM Spanyol Pedro Sanchez Tantang Donald Trump Soal Perang Iran
Ribuan Korban Berjatuhan
Berdasarkan data yang dihimpun Reuters, konflik yang berlangsung hampir dua pekan tersebut telah menewaskan sekitar 2.000 orang.
Sebagian besar korban berada di wilayah Iran, sementara korban lain dilaporkan berasal dari Lebanon serta negara-negara di kawasan Teluk.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir, kawasan Teluk menjadi garis depan pertempuran dalam konflik regional yang semakin meluas.
Korban dari Militer AS
Militer Amerika Serikat juga mengalami korban dalam ketegangan tersebut.
Pihak militer mengonfirmasi bahwa empat dari enam awak pesawat pengisi bahan bakar yang jatuh di wilayah barat Irak dinyatakan meninggal dunia.
Iran Tingkatkan Serangan ke Israel
Di sisi lain, Iran dilaporkan meningkatkan intensitas serangan dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke wilayah Israel.
Militer Israel kemudian membalas dengan serangan udara di sejumlah titik di Teheran serta terus menggempur kelompok milisi Hizbullah yang merupakan sekutu Iran di Lebanon, termasuk di Beirut.
Laporan media pemerintah Iran, Press TV, menyebut seorang perempuan tewas akibat serangan udara yang terjadi di dekat aksi unjuk rasa peringatan Hari Quds di Teheran.
Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang demonstrasi di seluruh Iran untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina di wilayah pendudukan Israel.
Media lokal juga melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi turut hadir dalam aksi tersebut sebagai simbol dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Israel Klaim Hantam 200 Target Iran
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir angkatan udaranya telah menghantam lebih dari 200 target strategis di wilayah Iran bagian tengah dan barat.
Target tersebut meliputi peluncur rudal balistik, sistem pertahanan udara, hingga fasilitas produksi persenjataan milik Iran.
Ketegangan yang terus meningkat ini membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang konflik besar yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama pasar energi dunia.(*).
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni