Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Peta Baru Perdagangan Minyak Dunia: Belanda Puncaki Impor AS, China Tergeser Tajam

Tulus Widodo • Kamis, 19 Maret 2026 | 12:30 WIB

Ilustrasi kilang minyak
Ilustrasi kilang minyak

RADARTUBAN – Peta perdagangan energi global berubah cepat. Amerika Serikat kian menegaskan diri sebagai raksasa eksportir minyak, dengan pengiriman hampir 4 miliar barel sepanjang 2025.

Namun di balik angka besar itu, muncul kejutan: pembeli terbesar bukanlah China atau Jepang, melainkan Belanda.

Data yang dihimpun dari laporan EIA dan diolah Visual Capitalist—serta dikutip CNBC Indonesia—menunjukkan Belanda mengimpor sekitar 419 juta barel minyak AS.

Angka ini menempatkannya di puncak, mengungguli Meksiko (398 juta barel) dan Kanada (324 juta barel).

Belanda Unggul, Eropa Ambil Peran Kunci

Dominasi Belanda bukan kebetulan. Negara ini berfungsi sebagai hub energi Eropa, terutama melalui pelabuhan Rotterdam yang menjadi pintu masuk utama distribusi minyak ke kawasan Uni Eropa.

Artinya, sebagian besar minyak yang “dibeli” Belanda sejatinya dialirkan kembali ke negara-negara lain di Eropa.

Fenomena ini menegaskan bahwa pergeseran geopolitik energi tidak hanya ditentukan oleh konsumsi domestik, tetapi juga oleh posisi strategis dalam rantai pasok global.

Asia Tetap Kuat, Tapi Mulai Bergeser

Negara-negara Asia masih menjadi pelanggan penting. Korea Selatan (257 juta barel), Jepang (247 juta barel), dan China (238 juta barel) tetap berada di jajaran atas.

Namun, perubahan paling mencolok terjadi pada China. Impor minyak AS oleh Negeri Tirai Bambu turun sekitar 81 juta barel dibanding tahun sebelumnya.

Dampaknya signifikan: peringkatnya merosot dari posisi ketiga menjadi keenam.

Penurunan ini mengindikasikan dinamika baru—mulai dari faktor geopolitik, diversifikasi sumber energi, hingga strategi penguatan pasokan domestik dan regional.

Indonesia di Posisi 18: Kecil Tapi Strategis

Di tengah persaingan global, Indonesia berada di peringkat ke-18 dengan impor sekitar 57 juta barel, atau sekitar 1,5 persen dari total ekspor minyak AS.

Angka ini memang belum besar, tetapi mencerminkan ketergantungan yang tetap ada terhadap pasokan energi impor, khususnya untuk menopang kebutuhan domestik yang terus tumbuh.

Arah Baru Energi Global

Perubahan peta impor ini menegaskan tiga hal. Pertama, AS kini bukan hanya produsen besar, tetapi pemain kunci dalam stabilitas pasokan global.

Kedua, Eropa—melalui Belanda—memainkan peran distribusi yang semakin vital.

Ketiga, Asia mulai melakukan reposisi strategi energi.

Bagi Indonesia, situasi ini adalah alarm sekaligus peluang.

Ketergantungan impor perlu ditekan melalui peningkatan produksi dalam negeri dan percepatan transisi energi.

Jika tidak, volatilitas pasar global akan terus menjadi risiko laten.

Di sisi lain, fleksibilitas pasokan dari AS memberi ruang manuver jangka pendek—tetapi tanpa strategi jangka panjang, posisi Indonesia akan tetap sebagai pemain pinggiran dalam peta energi dunia. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Energi Global #asia #belanda #kunci #eropa #Amerika Serikat