Krisis Energi Picu Panic Buying di Seoul, Kantong Sampah Ludes dan Sulit Dicari

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Kamis, 2 April 2026 | 15:21 WIB
Panic buying terjadi di Seoul akibat krisis energi, penjualan kantong sampah melonjak tajam.
Panic buying terjadi di Seoul akibat krisis energi, penjualan kantong sampah melonjak tajam.

RADARTUBAN - Korea Selatan sedang menghadapi gelombang kepanikan warga akibat kekhawatiran pasokan energi yang terdampak perang Iran di Timur Tengah.

Penjualan kantong sampah plastik di Seoul melonjak lima kali lipat dalam seminggu terakhir.

Lonjakan Penjualan Kantong Sampah

Pemerintah Kota Seoul mencatat penjualan harian kantong sampah mencapai 2,7 juta unit, memaksa beberapa pengecer besar memberlakukan batas pembelian per pelanggan. 

Fenomena ini dipicu ketergantungan Korsel pada impor minyak melalui Selat Hormuz, yang ditutup Iran sejak serangan AS dan Israel pada Februari 2026.

Baca Juga: Tragedi Gunung Sampah Leuwigajah 2005: 157 Orang Tewas Tertimbun, Jadi Asal Usul Hari Peduli Sampah Nasional

Kantong sampah khusus wajib digunakan rumah tangga di Seoul untuk membuang sampah, sehingga kekhawatiran kelangkaan plastik memicu aksi belanja panik. Situasi ini memperparah tekanan ekonomi global akibat gangguan pasok minyak mentah dan LNG.

Menteri Energi Kim Sung-whan menegaskan tidak ada alasan untuk panik karena stok bahan baku daur ulang mencukupi untuk lebih dari setahun. 

Pemerintah juga terapkan pembatasan harga bahan bakar langkah terakhir kali diambil 1997 dan anggaran darurat "anti perang" Rp 280,95 triliun. 

Warga diimbau hemat energi, seperti kurangi pemakaian kendaraan, jalan kaki, atau siaga daya ponsel. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
krisis energi kantong plastik sekali pakai korea selatan