Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Iran Buka Komunikasi dengan AS di Tengah Konflik, Tegaskan Bukan Negosiasi atau Tanda Menyerah

M Robit Bilhaq • Kamis, 2 April 2026 | 13:31 WIB
Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran. (Jawapos.com)
Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran. (Jawapos.com)

RADARTUBAN - Abbas Araghchi selaku Menteri Luar Negeri Iran, mengkonfirmasi terkait adanya pertukaran pesan antara pihaknya dengan Amerika Serikat yang dilakukan baik secara langsung maupun lewat perantara negara-negara di wilayah tersebut.

Langkah komunikasi tersebut berlangsung di tengah situasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan pihak Iran.

Dalam sebuah sesi wawancara di awal April 2026, Araghchi menegaskan bahwa adanya kontak tersebut bukan merupakan pertanda bahwa Teheran tengah menempuh jalur perundingan resmi dengan Washington.

Baca Juga: Di Tengah Eskalasi Timur Tengah, Trump Sebut Iran Alami Pergantian Rezim

Araghchi megkonfirmasi telah menerima pesan yang disampaikan oleh utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, secara personal namun hal tersebut tidak dianggap sebagai sebuah proses negosiasi.

Araghchi membantah terkait adanya isu mengenai pembicaraan di luar jalur pemerintahan yang sah dan menekankan bahwa seluruh pesan diplomasi harus dikelola oleh Kementerian Luar Negeri atau melalui koordinasi antar lembaga keamanan.

Baca Juga: Turki Tawarkan Mediasi Konflik AS-Iran di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Namun Belum Dapat Respons

Lebih lanjut, Araghchi menjelaskan bahwa Iran memiliki riwayat kerja sama yang buruk dengan Amerika Serikat, terutama jika berkaca pada pengkhianatan terhadap kesepakatan nuklir tahun 2015.

Pihak Teheran merasa tidak yakin bahwa pembicaraan dengan Washington akan hasil positif karena rasa kepercayaan kedua negarat tersebut saat ini berada pada tingkat terendah.

Sejalan dengan itu, Masoud Pezeshkian selaku Presiden Iran menilai bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak mempercayai jalur diplomasi karena Iran justru mendapatkan serangan saat proses perundingan sedang berjalan.

Dalam komunikasinya dengan Presiden Dewan Eropa, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran memiliki niat untuk mengakhiri perselisihan namun mereka membutuhkan jaminan keamanan yang konkret agar agresi serupa tidak terulang kembali.

Sementara itu, melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth pihak Amerika Serikat memberikan pernyataan tegas terkait keinginan mereka untuk mengakhiri perang dan memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Namun, Hegseth menyatakan bahwa sebagai bagian dari upaya mereka menekan Iran dalam proses tersebut Washington tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatan militer.

Menanggapi ketegangan di Selat Hormuz, Araghchi menjelaskan bahwa perairan tersebut berada di wilayah kedaulatan Oman dan Iran sehingga penggunaan strategi di sana merupakan hak yang wajar.

Penutupan selat Hormuz hanya berlaku khusus bagi kapal-kapal milik pihak yang sedang berperang dengan Iran karena Teheran tidak akan membiarkan lawan memanfaatkan wilayah mereka untuk kepentingan perdagangan.

Araghchi mengamati bahwa secara mandiri banyak kapal internasional mulai menghindari jalur tersebut karena pertimbangan risiko keamanan serta melonjaknya biaya asuransi pelayaran.

Araghchi menyatakan bahwa di masa depan, stabilitas keamanan di jalur air vital tersebut akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Oman dan Iran untuk mewujudkan wilayah yang damai.

Menanggapi ancaman serangan darat dari Amerika Serikat, pemerintah Iran mengaku tidak gentar dan justru menyatakan kesiapan penuh untuk menyambut kehadiran pasukan lawan di lapangan.

Araghchi memperingatkan bahwa Iran memiliki kemampuan pertahanan darat yang sangat mumpuni dan berharap lawan tidak membuat keputusan ceroboh yang akan menjadi kesalahan besar.

Iran tetap memegang teguh prinsip untuk menuntut penghentian seluruh aksi militer di kawasan secara menyeluruh dibandingkan hanya menyetujui penghentian serangan yang bersifat sementara.

Situasi konflik ini terus dipantau oleh dunia internasional karena dampaknya yang sangat besar terhadap stabilitas ekonomi global, terutama mengingat peran penting Selat Hormuz dalam jalur perdagangan energi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#amerika serika #Abbas Araghchi #iran #negosiasi #Ancaman militer