Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Iran Siap Buka Selat Hormuz 2 Minggu, AS-Israel Harus Hentikan Serangan sebagai Syarat Utama

M Robit Bilhaq • Kamis, 9 April 2026 | 08:35 WIB
Ilustrasi selat Hormuz. (Jawapos.com)
Ilustrasi selat Hormuz. (Jawapos.com)

RADARTUBAN- Pihak Iran telah menyatakan kesediaannya untuk mengaktifkan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan durasi selama dua pekan ke depan.

Keputusan tersebut diambil dengan syarat utama bahwa seluruh operasi serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat beserta Israel harus segera dihentikan sepenuhnya.

Kebijakan ini mencuat bertepatan dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata jangka pendek yang dijembatani oleh pemerintah Pakistan.

Langkah ini dianggap sebagai jeda yang sangat krusial di tengah pusaran konflik yang telah berlangsung selama enam minggu, yang sebelumnya telah memberikan dampak buruk bagi stabilitas energi dunia serta keamanan di kawasan regional.

Baca Juga: Sempat Lumpuh Total, Selat Hormuz Kembali Dibuka! Apakah Kapal Indonesia Bisa Melintas?

Merujuk pada laporan dari CNA pada Rabu (8/4), otoritas Iran menjelaskan bahwa dalam masa dua minggu tersebut, aktivitas lalu lintas laut akan diperbolehkan melintasi Selat Hormuz melalui mekanisme koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran serta tetap memperhatikan berbagai batasan teknis yang ada.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pernyataan di media sosial X, memberikan penekanan bahwa inisiatif ini merupakan elemen penting dari kesepakatan gencatan senjata dan akan digunakan sebagai momentum untuk melangsungkan dialog lebih mendalam dengan pihak Amerika Serikat.

Terwujudnya kesepakatan berdurasi empat belas hari ini didorong oleh pengumuman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan persetujuannya untuk menghentikan seluruh operasi militer terhadap Iran dalam periode tersebut.

Keputusan dramatis itu diumumkan hanya sekitar dua jam sebelum batas waktu ultimatum yang ditetapkan Trump berakhir bagi Iran untuk membuka kembali jalur strategis yang menampung hampir seperlima pasokan minyak bumi global tersebut.

Trump mendeskripsikan kesepakatan damai sementara ini sebagai bentuk gencatan senjata yang bersifat dua sisi.

Langkah yang diambil oleh Trump ini juga telah mendapatkan lampu hijau dari para sekutu utamanya, termasuk pihak Israel.

Pejabat dari Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Israel telah sepakat untuk menghentikan rangkaian serangan udaranya terhadap Iran maupun wilayah sekitarnya selama masa gencatan senjata berlaku.

Namun demikian, pihak militer Israel sempat melaporkan adanya deteksi peluncuran rudal dari teritorial Iran yang mengarah ke Israel hanya berselang beberapa menit setelah pengumuman tersebut dipublikasikan.

Kesepakatan temporer ini menjadi titik balik yang sangat mengejutkan setelah beberapa hari yang penuh dengan ketegangan tinggi.

Sebelumnya, Trump sempat menebar ancaman mengerikan melalui media sosial bahwa suatu peradaban akan segera hancur jika keinginan Amerika tidak dipenuhi, sebuah retorika yang memicu gelombang kecaman luas dari dunia internasional, termasuk dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Baca Juga: Iran Beri Izin Khusus Kapal Jepang Lintasi Selat Hormuz di Tengah Konflik, Kok Bisa?

Proses perdamaian jangka pendek ini berhasil diwujudkan berkat peran sentral Pakistan yang bertindak sebagai mediator bagi kedua belah pihak.

Trump mengungkapkan bahwa mufakat ini tercapai setelah dirinya melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, serta Jenderal Asim Munir.

Dalam prosesnya, pihak Iran mengajukan draf usulan sepuluh poin yang menurut Trump dapat dijadikan landasan yang cukup layak untuk proses negosiasi lebih lanjut guna mencapai kesepakatan final selama masa jeda dua minggu ini.

Bagi pihak Iran, persetujuan untuk melakukan gencatan senjata ini sejalan dengan tuntutan mereka agar perang berakhir dengan adanya jaminan pengakuan atas kontrol Iran terhadap Selat Hormuz, hak program pengayaan uranium, serta penghapusan berbagai sanksi ekonomi yang memberatkan.

Awalnya, Iran sempat menolak opsi jeda waktu sementara tanpa adanya kepastian syarat yang lebih permanen, namun pada akhirnya mereka bersedia menjadikan penghentian agresi militer sebagai prasyarat utama untuk memulai gencatan senjata.

Dampak global dari krisis ini memang sangat masif, di mana blokade Selat Hormuz sebelumnya telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia serta menggoncang stabilitas pasar keuangan internasional.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya perlambatan ekonomi hingga resesi global mengingat betapa tingginya ketergantungan dunia terhadap energi dari Timur Tengah.

Respons positif dari pasar mulai terlihat sesaat setelah pengumuman gencatan senjata ini beredar, ditandai dengan penurunan harga minyak serta menguatnya indeks bursa saham di Amerika Serikat.

Walaupun demikian, status gencatan senjata selama dua minggu ini masih dalam kondisi yang sangat rapuh.

Meskipun sudah ada deklarasi resmi dari kedua belah pihak, adanya laporan mengenai peluncuran rudal dari arah Iran memberikan indikasi kuat bahwa ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda.

Konflik yang telah merenggut lebih dari 5.000 nyawa di berbagai negara, termasuk jatuhnya korban dari ribuan warga sipil di Iran, menunjukkan betapa dalamnya skala krisis yang terjadi.

Para pakar hubungan internasional memberikan peringatan bahwa meski saat ini terjadi jeda serangan, jalan untuk mencapai perdamaian yang abadi masih sangat panjang dan sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan yang direncanakan berlangsung di Islamabad.

Seluruh aspek perdagangan global dan stabilitas energi dunia akan terus berada dalam posisi rentan hingga sebuah kesepakatan yang bersifat komprehensif berhasil ditandatangani oleh semua pihak terkait. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#iran #Amerika Serikat #Israel #selat hormuz