RADARTUBAN - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyampaikan peringatan keras kepada Iran agar tidak merusak kesepakatan gencatan senjata dengan Washington.
Peringatan tersebut muncul sebagai respons atas berlanjutnya aksi militer Israel di Lebanon yang memicu ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Iran bersama mediator Pakistan berpendapat bahwa wilayah Lebanon seharusnya masuk dalam cakupan perjanjian damai yang sedang berlangsung.
Namun, Vance memberikan klarifikasi bahwa Amerika Serikat tidak pernah menyetujui penghentian serangan Israel ke Lebanon dalam draf kesepakatan dua minggu tersebut.
Baca Juga: Iran Siap Buka Selat Hormuz 2 Minggu, AS-Israel Harus Hentikan Serangan sebagai Syarat Utama
Vance menegaskan bahwa proses negosiasi saat ini sepenuhnya berada di tangan Teheran, apakah akan dilanjutkan atau dibatalkan.
Saat berada di Hungaria, Vance menyatakan bahwa jika Iran memilih membiarkan dialog hancur demi membela kepentingan di Lebanon, maka itu adalah hak mereka.
Menurutnya, langkah tersebut tidak bijaksana karena Lebanon dianggap tidak memiliki kaitan langsung dengan poin utama kesepakatan yang ada.
Vance juga menduga telah terjadi kekeliruan komunikasi diplomatik yang mengakibatkan pihak Iran salah memahami cakupan formal dari gencatan senjata tersebut.
Vance membantah adanya dokumen resmi yang mengikat atau membatasi operasi militer Israel di Lebanon dalam draf yang telah disetujui Amerika Serikat.
Meski demikian, pihak Israel dikabarkan telah memberikan jaminan khusus untuk sedikit menahan diri dalam melancarkan aksi militer di wilayah Lebanon.
Langkah Israel ini bertujuan untuk mendukung kelancaran dialog besar antara Washington dan Teheran agar mencapai hasil yang diinginkan semua pihak.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, justru mengonfirmasi bahwa Lebanon secara eksplisit adalah bagian dari ketentuan damai menurut mediator.
Araghchi melontarkan pilihan sulit bagi Washington untuk memilih antara gencatan senjata total atau membiarkan perang terus berlanjut melalui pihak Israel.
Ketegangan semakin memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran mengeluarkan ancaman resmi untuk melakukan serangan balasan ke pihak musuh.
Kelompok militer elite tersebut menyatakan kesiapan penuh mereka untuk kembali ke medan tempur jika operasi militer di Lebanon tidak segera dihentikan.
Mereka memperingatkan akan memberikan respons yang sangat merugikan bagi pihak yang dianggap sebagai agresor demi melindungi stabilitas di kawasan tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni