RADARTUBAN - Pemerintah Iran menekankan dengan keras bahwa pihaknya akan melakukan tindakan nyata terhadap seluruh kapal perang yang berusaha melakukan pelayaran melewati Selat Hormuz.
Pernyataan mengancam tersebut dikeluarkan secara resmi oleh pihak Komando Angkatan Laut dari Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.
Sebagaimana diberitakan oleh kantor berita Fars News Agency yang dilansir oleh Antara, IRGC menegaskan bahwa segala bentuk usaha kapal militer untuk melintasi jalur tersebut akan dihadapi dengan tindakan pencegahan yang tegas.
Baca Juga: Donald Trump Desak Iran Hentikan Pungutan Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Kembali Memanas
Kekuatan Angkatan Laut IRGC sendiri saat ini diklaim telah memegang otoritas dan kendali secara menyeluruh atas wilayah Selat Hormuz, sehingga hanya kapal-kapal komersial atau sipil saja yang boleh melewati dan dengan mengikuti persyaratan-persyaratan tertentu.
Pihak IRGC juga secara resmi menepis berbagai isu yang beredar terkait adanya kapal tempur milik Amerika Serikat yang dikabarkan sudah berhasil masuk ke wilayah perairan yang sangat strategis tersebut.
Pada hari Sabtu tanggal 11 April, media Fars melaporkan bahwa otoritas militer Iran secara intensif terus mengawasi pergerakan sebuah kapal perusak milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang diketahui baru saja meninggalkan pelabuhan Fujairah menuju arah Selat Hormuz.
Setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh kapal perang tersebut dilaporkan telah dicatat dan diteruskan kepada tim delegasi Iran yang tengah berada di Islamabad, Pakistan, untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah Amerika Serikat melalui bantuan pihak Pakistan sebagai penengah.
Laporan dari Fars juga menyebutkan bahwa Iran telah mengirimkan peringatan secara langsung dan terbuka kepada kapal perusak tersebut.
Bahkan, lewat saluran komunikasi diplomatik di Pakistan, ditegaskan bahwa kapal tersebut akan dijadikan sasaran serangan militer dalam kurun waktu 30 menit jika tetap memaksakan diri untuk melanjutkan rute pelayarannya.
Langkah ini diambil karena Iran menganggap kehadiran kapal tersebut dapat merusak serta mengganggu jalannya proses perundingan yang tengah berlangsung antara pihak Teheran dan Washington.
Diwaktu yang bersamaan, Iran dan Amerika Serikat memang telah memulai rangkaian diskusi penting di Islamabad, yang menyusul pengumuman gencatan senjata selama dua pekan oleh Donald Trump pada tanggal 8 April lalu.
Sejumlah media milik pemerintah Iran memberitakan bahwa status dan keamanan di Selat Hormuz menjadi salah satu topik krusial yang memicu perdebatan sengit dalam meja perundingan tersebut.
Baca Juga: Iran Siap Buka Selat Hormuz 2 Minggu, AS-Israel Harus Hentikan Serangan sebagai Syarat Utama
Delegasi dari pihak Iran sendiri dipimpin langsung oleh Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga didampingi oleh pejabat tinggi lainnya seperti Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Akbar Ahmadian, serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati.
Di sisi lain, rombongan delegasi dari Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, yang juga mengikutsertakan utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner dalam tim perunding mereka. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama