Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Filipina Tuduh Nelayan China Sebar Racun Sianida di Laut China Selatan

Ika Nur Jannah • Rabu, 15 April 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi nelayan. (Pinterest)
Ilustrasi nelayan. (Pinterest)

RADARTUBAN - Pemerintah Filipina dengan tegas menuduh nelayan China membuang racun sianida ke perairan sekitar Kepulauan Spratly di Laut China Selatan, wilayah yang kerap memicu ketegangan. 

Tuduhan ini muncul setelah pasukan Filipina menemukan bukti nyata berupa botol-botol sianida di perairan rawan konflik tersebut.

Dewan Keamanan Nasional Filipina (NSC) menyebut aksi penyebaran sianida sebagai bentuk sabotase yang sengaja membunuh populasi ikan lokal. 

Asisten Direktur Jenderal NSC, Cornelio Valencia, menegaskan bahwa tindakan ini merampas sumber makanan penting bagi personel Angkatan Laut Filipina di Ayungin Shoal, atau yang dikenal sebagai Second Thomas Shoal. 

Baca Juga: Timnas U-22 Kalah Tipis dari Filipina, Indra Sjafri Soroti Fokus dan Detail Pertahanan

Selain mengancam pasokan pangan, paparan udara yang terkontaminasi juga berpotensi membahayakan kesehatan prajurit serta merusak terumbu karang di kawasan tersebut.

Juru bicara Angkatan Laut Filipina, Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad, mengungkapkan bahwa militer telah menyita 10 botol sianida dari sampan nelayan Tiongkok pada Februari, Juli, dan Oktober 2025. 

Pengamatan terbaru pada Maret 2026 menunjukkan awak perahu Tiongkok meracuni perairan dekat Second Thomas Shoal, dengan sampel udara yang diuji positif mengandung sianida. 

Kapal induk nelayan tersebut diduga terkait dengan Angkatan Laut Tiongkok, menambah kualitas strategi motif di balik kejadian ini.

Respons Tiongkok dan Ketegangan yang Berlanjut
China menyampaikan tuduhan tersebut melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, yang menyebutnya sebagai pemalsuan untuk mengganggu aktivitas penangkapan ikan sah. 

Beijing terus mempertahankan klaimnya atas hampir seluruh Laut China Selatan, meskipun putusan arbitrase internasional 2016 menyatakan sebaliknya. 

Insiden ini mencakup friksi diplomatik, di tengah konfrontasi berulang antara kapal-kapal kedua negara di wilayah kaya sumber daya itu. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#miliano jonathans #Filipina #nelayan #China