RADARTUBAN – Fenomena pergerakan anak muda atau yang akrab disapa Gen Z dan Milenial kini tengah menjadi sorotan global.
Tidak hanya di Indonesia, gelombang gugatan terhadap generasi pendahulu atau baby boomers semakin masif terjadi di berbagai belahan dunia, mulai dari Nepal, Thailand, hingga Bulgaria.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog hangat antara presenter senior Helmy Yahya dengan konten kreator Koiyocabe.
Keduanya membedah bagaimana teknologi informasi telah mengubah pola pikir anak muda menjadi lebih kritis, namun di sisi lain memicu konflik antargenerasi yang semakin tajam.
Baca Juga: Job Hopping di Kalangan Gen Z, Strategi Karier atau Sekadar Tren?
Gelombang Perlawanan Global Anak Muda
Sejak tahun 2025, dunia menyaksikan bagaimana anak muda mulai berani turun ke jalan untuk menggugat kebijakan pemerintah yang dianggap korup dan tidak berpihak pada masa depan lingkungan.
Di Nepal, kemarahan milenial dipicu oleh pemblokiran puluhan platform media sosial dan tingginya angka pengangguran.
"Anak muda sekarang lebih gampang menerima informasi. Ada korupsi di mana kita langsung tahu. Ketika ada kezaliman, itu menumpuk sampai akhirnya ada momen di mana kita merasa tidak bisa sekadar membaca saja, tapi harus menyampaikan agar lebih banyak yang tahu," ujar Koiyocabe dalam podcast tersebut.
Perlawanan ini juga terjadi di Thailand, di mana partai yang didominasi anak muda terus berupaya melawan dominasi elit politik lama.
Kesamaan dari gerakan ini adalah tuntutan akan transparansi dan keadilan ekonomi yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Kesenjangan Komunikasi dan Etika Digital
Helmy Yahya menyoroti bahwa salah satu pemicu konflik ini adalah hilangnya jembatan komunikasi yang efektif antara generasi tua dan muda.
Generasi baby boomers seringkali merasa tidak dihargai, sementara anak muda merasa aspirasi mereka tidak pernah didengarkan secara tulus.
Namun, di balik keberanian dan kecerdasan digitalnya, Helmy juga memberikan catatan kritis mengenai etika dan tata krama anak muda masa kini yang seringkali tergerus.
"Mungkin mereka lebih berani, lebih ekspresif, lebih jujur. Cuma kadang kurang di tata krama, etika suka agak kurang. Kalau salaman itu tolong berdiri, kalau di kafe jangan angkat kaki. Mungkin buat sesama mereka tidak apa-apa, tapi ke orang tua harus ada bedanya," tutur Helmy Yahya.
Baca Juga: KUR BRI Tingkatkan Omzet, Pengusaha Genteng di Majalengka Banjir Pesanan
Warisan Persoalan bagi Masa Depan
Isu lingkungan menjadi salah satu poin paling sensitif dalam gugatan anak muda. Mereka merasa generasi terdahulu telah mengeruk kekayaan alam tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.
"Gua nonton ada satu konten anak muda protes. Dia bilang yang menghabiskan (alam) ini baby boomer, yang merambah hutan untuk sawit dan tambang. Mereka dapat duitnya, nah nanti kami dapat banjir dan tsunaminya," kata Helmy menceritakan kegelisahan generasi muda yang ia temui.
Kondisi ini diperparah dengan pola asuh di era digital yang membuat generasi muda cenderung lebih rapuh secara mental, atau yang sering disebut sebagai Strawberry Generation.
"Anak muda juga harus belajar bagaimana menghormati orang yang lebih tua. Lu belum tentu jadi tua seperti gua, tapi gua pernah jadi muda seperti lu," pesan Helmy menutup dialog. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama