RADARTUBAN - Gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat yang dimulai sejak 8 April diprediksi akan berakhir pada Rabu (22/4) mendatang.
Pihak Iran menolak melanjutkan perundingan kecuali Washington memenuhi persyaratan utama berupa pencabutan blokade laut di Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima negosiasi di bawah tekanan militer atau politik.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman,” ujar Ghalibaf melalui akun media sosialnya X. Dikutip dari sumber kompas.com.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal, JD Vance Lempar Kritik Pedas Terhadap Sikap Teheran
Iran menilai proposal AS masih tidak realistis dan menuntut penyelesaian isu blokade sebagai prasyarat dialog lanjutan di Pakistan.
Kendala ini mencakup tuntutan AS yang dianggap berlebihan serta kurangnya komitmen konkret soal pencabutan sanksi dan pengampunan aset Iran.
Jika kondisi tidak terpenuhi, Teheran mengaktifkan kembali kemampuan militernya, yang berpotensi memanaskan situasi di Timur Tengah.
Situasi Timur Tengah kian tegang menjelang akhir gencatan senjata, dengan Iran waspada terhadap taktik tertunda dari Washington.
Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan posisi militer tetap siaga meskipun jeda ini membuka ruang perjanjian permanen. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni