RADARTUBAN - Fenomena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kini tengah melanda sebagian besar negara di dunia, bahkan di beberapa wilayah peningkatannya terjadi secara sangat drastis.
Pada negara-negara yang mengalami dampak paling parah, biaya untuk mendapatkan bahan bakar tercatat melonjak hingga lebih dari dua kali lipat hanya dalam kurun waktu beberapa pekan saja.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Visual Capitalist, yang melakukan pemetaan terhadap fluktuasi biaya bensin di 128 negara dalam rentang waktu 23 Februari hingga 13 April 2026, kondisi ini dipicu oleh pecahnya konflik Iran.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Jonathan Rowe Diburu Klub Eropa, Bologna Pasang Harga Tinggi
Ketegangan tersebut mengakibatkan harga minyak mentah di pasar global meroket hingga melampaui angka US$100 per barel.
Lonjakan harga yang paling signifikan terlihat terpusat di sejumlah kawasan tertentu, terutama di Asia Tenggara, di mana ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan bahan bakar impor telah memperparah dampak ekonomi yang dirasakan.
Apabila gangguan pada rantai pasokan ini terus berlangsung, maka tekanan terhadap harga bensin diprediksi akan terus merangkak naik, khususnya di wilayah-wilayah yang sangat mengandalkan impor energi.
Deretan negara di bawah ini tercatat mengalami kenaikan harga bensin yang paling tajam sejak akhir Februari, dengan beberapa di antaranya mencatatkan pertumbuhan yang sangat cepat hingga mencapai angka dua digit, bahkan hingga tiga digit.
Kawasan Asia Tenggara sendiri menyumbang separuh dari daftar 10 besar negara dengan kenaikan harga bensin tertinggi di dunia.
Myanmar menempati posisi puncak secara global dengan lonjakan yang sangat mencengangkan sebesar 101,1%, yang kemudian disusul oleh Filipina dan Malaysia di urutan berikutnya.
Beberapa negara lain di Asia Tenggara juga mencatatkan kenaikan harga di atas level 40%, yang menempatkan kawasan ini tepat di pusat krisis lonjakan harga energi global.
Tingginya kerentanan di kawasan ini sangat berkaitan erat dengan ketergantungan mereka pada impor minyak mentah yang distribusinya melewati Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling krusial sekaligus rawan di dunia.
Setiap hambatan yang terjadi di jalur tersebut dapat dengan cepat memberikan efek domino terhadap stabilitas pasar energi di seluruh daratan Asia.
Berikut adalah daftar rincian kenaikan harga BBM di berbagai negara untuk periode 23 Februari hingga 13 April 2026:
Baca Juga: PM Malaysia: Hanya Negara Kami di Asia Tenggara yang Belum Batasi BBM
• Myanmar mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 101,1%.
• Filipina berada di posisi kedua dengan kenaikan 72,6%.
• Malaysia mengalami lonjakan harga sebesar 68,1%.
• Laos mencatatkan kenaikan hingga 45,6%.
• Zimbabwe mengalami peningkatan harga 42,9%.
• Pakistan mencatatkan angka kenaikan sebesar 42,0%.
• Uni Emirat Arab (UEA) mengalami kenaikan sebesar 40,8%.
• Kamboja mencatatkan lonjakan harga 40,4%.
• Nepal mengalami peningkatan sebesar 39,5%.
• Panama mencatatkan kenaikan harga 38,5%.
• Guatemala mengalami kenaikan sebesar 37,7%.
• Tanzania mencatatkan lonjakan hingga 37,0%.
• Peru mengalami peningkatan harga sebesar 35,6%.
• Amerika Serikat (AS) mencatatkan kenaikan 35,1%.
• Malawi berada di posisi terakhir dalam daftar ini dengan kenaikan 34,4%.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak negara di Asia Tenggara tidak memiliki cadangan energi domestik yang memadai, sehingga mereka menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi harga global serta risiko hambatan dalam proses pengiriman. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama