Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sejumlah Jemaah Haji Tuban Dirawat di Madinah, Dua Dirujuk ke RS

Dwi Setiyawan • Selasa, 5 Mei 2026 | 13:31 WIB
Jemaah haji dari Indonesia mengenakan masker, kacamata, dan penutup kepala ketika memasuki gate 338 Masjid Nabawi kemarin. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Jemaah haji dari Indonesia mengenakan masker, kacamata, dan penutup kepala ketika memasuki gate 338 Masjid Nabawi kemarin. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Ujian kesehatan mulai menyertai perjalanan ibadah sejumlah jemaah haji asal Tuban yang tergabung dalam kloter 26, 27, 28, 29, dan 30 (kloter gabungan dengan Lamongan).

Di tengah padatnya rangkaian ibadah dan adaptasi cuaca ekstrem di Arab Saudi, beberapa jemaah mengalami gangguan kesehatan. 

Dua di antaranya bahkan harus dirujuk ke Saudi Germany Hospital Madinah untuk penanganan intensif.

Salah satunya Suningsih, jemaah kloter 29 asal Kecamatan Singgahan. Perempuan yang tergabung dalam rombongan 1 itu dilarikan ke rumah sakit pada Minggu (4/5) pukul 09.30 waktu Arab Saudi atau 05.30 WIB.

Baca Juga: Drop, Tiga Jemaah Haji Tuban Dilarikan ke Rumah Sakit: Seluruh Jemaah Diserukan Berdoa untuk Kesembuhannya

Dokter Kloter 29 Ririn Puji Rahayu menjelaskan, Suningsih harus mendapat penanganan lanjutan setelah mengalami mual dan tidak mau makan selama beberapa hari. “Gula darahnya 400,’’ ujarnya.

Ririn mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi jemaah tersebut.

Jika hingga jadwal pergeseran kloter 29 menuju Makkah pada Jumat (8/5) kondisinya belum memungkinkan untuk ikut bergerak, Suningsih terpaksa tetap menjalani perawatan di Madinah.

“Setelah kondisinya memungkinkan, dia direncanakan diantar ambulans ke Makkah,” terang tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) itu.

Kondisi serupa dialami Rusmiati, jemaah kloter 26. Ketua Kloter 26 Nurul Yaqin Anas menyampaikan, Rusmiati sudah dirawat di Saudi Germany Hospital sejak Kamis (30/4), sehari setelah tiba di Madinah, akibat serangan jantung.

Menurut Anas, Minggu malam pasien sempat diizinkan kembali ke hotel. Namun, di tengah perjalanan kondisinya kembali memburuk.

“Sebenarnya, malam tadi yang bersangkutan sudah diantar pulang ke hotel, tapi di tengah perjalanan mengalami muntah-muntah,” katanya.

Karena kondisinya kembali drop, pihak rumah sakit memutuskan membawa Rusmiati kembali untuk perawatan lanjutan. “Ini saya masih riwa-riwi, rumah sakit-hotel. Kita doakan semoga segera sembuh,” ujarnya.

Sementara itu, kabar membaik datang dari Taswi Paridin, 56, jemaah kloter 28 asal Kecamatan Kerek. Taswi sebelumnya tertunda berangkat setelah dirawat di Rumah Sakit Asrama Haji Embarkasi Surabaya sejak Rabu (29/4) pukul 14.30.

Ketua Kloter 28 Misabul Munir menjelaskan, jemaah tersebut mengalami kadar gula darah tinggi disertai luka yang memerlukan tindakan medis. “Penjelasan dokter kloter, gula darahnya tinggi dan ada luka,” ujarnya.

Baca Juga: Menhaj Peringatan Masyarakat Tawaran Haji Tanpa Antre Berujung Penipuan

Selama dirawat, Taswi menjalani transfusi darah dan operasi pembersihan luka pada Minggu (3/5). Karena keberangkatannya tertunda, sang suami, Suliah Tasu, 53, yang sedianya mendampingi, juga harus ikut menunggu.

Kini kondisinya dilaporkan membaik dan dijadwalkan terbang dari Bandara Internasional Juanda bersama jemaah kloter 48 pada Senin (4/5).

Di tengah situasi itu, ajakan mendoakan para jemaah yang sakit beredar di grup WhatsApp seluruh kloter asal Tuban.

“Mohon sambungan doa buat jemaah kloter 29 Sub yang saat ini ke RS Germany Makkah. Semoga lekas sembuh, Al Fatihah…,” tulis Ketua Kloter 29 AW Evendi Anwar di grup WA kloter 29, Senin (4/5) pukul 06.47 WAS.

Dokter Ririn menuturkan, pada hari-hari awal kedatangan di Madinah, keluhan yang paling banyak dialami jemaah adalah gangguan pencernaan. Kondisi itu dipicu proses adaptasi dari pola makan di rumah ke menu katering selama di penginapan.

Kini, keluhan mulai bergeser. “Sekarang terbanyak mengeluhkan alergi tenggorokan dan batuk-batuk karena panasnya suhu udara,” katanya.

Cuaca panas khas Madinah memang menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, terutama mereka yang lanjut usia dan memiliki penyakit penyerta. 

Kemarin (4/5) pagi sekitar pukul 08.40 WAS atau 12.40 WIB, suhu udara sudah menyentuh 37 derajat Celsius. Sementara malam 27 derajat Celsius. Kelembapan udara juga kering.

Dengan kondisi ekstrem tersebut, sebagian jemaah mengeluh kulit telapak kakinya kering dan pecah-pecah. Kondisi yang sama juga dialami pada bibir sejumlah jemaah. 

‘’Kulit telapak kaki saya kering kering kronis, menebal, dan pecah,’’ Mochammad Aly Achsin, jemaah haji asal Jatirogo Tuban.

Jemaah yang mengeluhkan tenggorokannya bermasalah tak kalah banyaknya. Salah satunya Hasta Imam Widodo. Dia mengaku tenggorokannya kering, suara parau, dan batuk. ‘’Tenggorokan saya seperti tercekat,’’ ujar jemaah haji kloter 29 asal Majejang, Cilacap itu.

Untuk meminimalisasi paparan langsung sinar matahari yang membakar kulit, hampir semua jemaah haji mengenakan penutup kepala, berkacamata, dan bermasker ketika beraktivitas di luar penginapan. Terutama ketika berangkat dan pulang dari Masjid Nabawi untuk salat Duhur dan Asar.

Dengan kondisi ekstrem tersebut, tim kesehatan terus mengingatkan jemaah agar menjaga asupan cairan, menjaga pola makan, serta membatasi aktivitas berlebih di luar ruangan. Imbauan lainnya, rutin menyemprotkan air dengan spray pada wajah.

Panasnya suhu udara menjadikan cucian jemaah cepat kering, meski dijemur di dalam kamar tanpa terkena langsung sinar matahari. Makanan basah, terutama nasi juga tidak mudah basi .(ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#saudi germany hospital #Tuban #madinah #Haji