RADARTUBAN – Kesehatan jemaah haji asal Tuban yang tergabung dalam kloter 26, 27, 28, 29, dan 30 (gabungan dengan Lamongan) benar-benar diuji.
Di tengah padatnya agenda ibadah dan adaptasi cuaca panas ekstrem di Madinah, jumlah jemaah yang terserang gangguan kesehatan terus bertambah.
Terbaru, Kromo Sanijan, 75, jemaah kloter 29 asal Desa Tegalsari, Kecamatan Widang, harus dirujuk ke Saudi Germany Hospital Madinah sejak Minggu (3/5).
Baca Juga: Sejumlah Jemaah Haji Tuban Dirawat di Madinah, Dua Dirujuk ke RS
Hingga Selasa (5/5), jemaah yang tergabung dalam rombongan 9 itu masih menjalani perawatan intensif di coronary care unit (CCU) rumah sakit setempat.
Dokter Kloter 29 Ririn Puji Rahayu menjelaskan, awalnya Kromo dicurigai mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Namun setelah pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan gangguan pada jantungnya.
“Sebelum kita rujuk, yang bersangkutan mengalami sesak napas,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Masih dari kloter 29, Dasmi mengalami luka pada punggung akibat garukan.
Sementara Sakur Rais mengalami luka terbuka di telapak kaki kanan setelah sebelumnya melepuh.
Keduanya tidak sampai dirujuk ke rumah sakit dan cukup mendapatkan penanganan di sektor khusus (seksus).
Kasus lain menimpa Tarsilan, 64, warga Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, dari kloter 26.
Dia terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit King Fahad Madinah pada Senin (4/5) setelah mengalami penyumbatan jantung.
“Diagnosanya terjadi gangguan penyumbatan jantung. Operasi jantung pun langsung dilakukan,” terang Ketua Kloter 26 Nurul Yakin Anas memberikan apresiasi cepatnya penanganan pasien di Madinah.
Di tengah kabar yang memprihatinkan itu, sejumlah perkembangan positif juga datang dari jemaah Tuban.
Suningsih, jemaah kloter 29 yang sebelumnya dirawat di Saudi Germany Hospital sejak Minggu (4/5), Selasa (5/5) pagi sudah diperbolehkan kembali ke hotel dan bergabung bersama rombongan.
Kabar serupa datang dari Rusmiati, jemaah kloter 26 yang sempat dirawat sejak Kamis (30/4) akibat serangan jantung. Kondisinya kini dilaporkan membaik.
Sebelumnya, Rusmiati sempat diizinkan kembali ke hotel pada Minggu malam.
Namun, di tengah perjalanan menuju hotel, kondisinya mendadak drop disertai muntah-muntah sehingga harus kembali dirawat.
“Sekarang sudah sehat dan kembali beraktivitas,” ujar Anas.
Sementara itu, dari kloter 28, Taswi Paridin, 56, akhirnya tiba di Madinah pada Selasa (5/5) pagi bersama istrinya, Suliah Tasu.
Sebelumnya dia sempat tertunda berangkat karena menjalani perawatan di Rumah Sakit Asrama Haji Embarkasi Surabaya sejak Rabu (29/4).
Taswi mengalami gula darah tinggi disertai luka serius hingga harus menjalani transfusi darah dan operasi pembersihan.
Ketua Kloter 28 Misabul Munir mengatakan, meski sudah tiba di Madinah, Taswi untuk sementara bergabung dengan kloter 48 karena alasan manifes penerbangan masuk di kloter tersebut.
“Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik,” ujar guru MAN 1 Tuban itu.
Satu lagi jemaah yang harus mendapat penanganan medis adalah Romelah dari kloter 27 asal Desa Pakis, Kecamatan Grabagan.
Diduga karena kondisi fisiknya tak memungkinkan saat antre masuk Raudhah, dia harus dirujuk ke Health Care Center Madinah.
Pembimbing Ibadah Haji Kloter 27 Wahid Ahmad Ali menyebutkan, diagnosis awal menunjukkan adanya pembengkakan jantung.
Deretan kasus ini menjadi alarm bagi seluruh jemaah agar lebih disiplin menjaga kondisi tubuh. Cuaca panas, aktivitas ibadah padat, serta kelelahan fisik menjadi kombinasi yang rawan memicu gangguan kesehatan di Tanah Suci.(*)
Editor : Dwi Setiyawan