Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inilah Kota Terpanas Di ASEAN, Suhunya Diprediksi Tembus 38 Celcius pada 2050, Apakah Jakarta dan Surabaya?

M Robit Bilhaq • Minggu, 10 Mei 2026 | 18:21 WIB
Ilustrasi suhu panas ekstrem.
Ilustrasi suhu panas ekstrem.

RADARTUBAN - Wilayah Bangkok diproyeksikan bakal menyandang status sebagai kota metropolitan dengan suhu paling menyengat di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2050 mendatang. 

Tingkat suhu di ibu kota negara Thailand tersebut diperkirakan akan melonjak melampaui angka 38°C seiring dengan dampak perubahan iklim yang melanda seluruh area tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari media setempat, The Nation, peringatan mengenai lonjakan suhu udara ini bersumber dari dokumen yang dirilis oleh ASEAN Center of Energy atau Pusat Energi ASEAN. 

Baca Juga: Suhunya 10 Kali Lebih Dingin dari Freezer, Inilah Kota Terdingin di Dunia dengan Rekor Minus 64 Derajat

Laporan tersebut menegaskan bahwa Bangkok bakal berhadapan dengan krisis suhu panas yang jauh lebih krusial dalam periode beberapa puluh tahun ke depan.

Memasuki tahun 2025, Bangkok tercatat memiliki kurang lebih 45 hari dengan kategori panas ekstrem setiap tahunnya, di mana kriteria ini merujuk pada kondisi suhu udara yang melampaui 35°C. 

Namun, pada tahun 2050, jumlah hari tersebut diprediksi akan membengkak menjadi 120 hari per tahun.

Hal ini mengindikasikan bahwa para penduduk harus bersiap menghadapi frekuensi hari dengan akumulasi panas ekstrem yang jumlahnya hampir tiga kali lipat lebih banyak dalam waktu singkat.

Dokumen riset itu juga memberikan proyeksi bahwa rata-rata suhu tertinggi harian di kota Bangkok akan menanjak ke angka 38,1°C di pertengahan abad ini. 

Angka tersebut menunjukkan kenaikan yang mencapai hampir 5°C jika dikomparasikan dengan rata-rata suhu tahun 2000 yang berada di level 33,3°C.

Jika dibandingkan dengan kota-kota utama lainnya di lingkup ASEAN, Bangkok diprediksi akan memimpin dalam pencapaian suhu tertinggi di tahun 2050. 

Posisi selanjutnya diikuti oleh Kota Ho Chi Minh di negara Vietnam dengan perkiraan 37,7°C, kemudian Manila di Filipina dengan 37,2°C, Kuala Lumpur di Malaysia pada 36,9°C, serta Jakarta di Indonesia dan Singapura yang keduanya diproyeksikan berada di angka 36,1°C.

Keadaan iklim yang sedemikian rupa berpotensi menekan kapasitas infrastruktur perkotaan, ketahanan sistem kesehatan masyarakat, hingga sektor ekonomi menuju titik batas yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Laporan riset tersebut menyebutkan bahwa fenomena perubahan iklim serta proses urbanisasi yang berlangsung sangat cepat menjadi dua pendorong utama di balik memburuknya krisis suhu panas di wilayah ASEAN. 

Baca Juga: Suhu Panas Mencekik, BMKG Buka Suara: Ini Biang Kerok Cuaca Ekstrem Indonesia!

Khusus untuk kasus di Bangkok, fenomena pulau panas perkotaan atau urban heat island menjadi faktor yang sangat berpengaruh, mengingat material beton dan aspal memiliki sifat menyerap panas di terik siang hari dan kemudian memancarkannya kembali saat malam tiba.

Data yang dikelola oleh Pusat Kesiapsiagaan Bencana Asia (ADPC) memperlihatkan bahwa suhu di titik-titik pusat kota Bangkok yang berpenduduk padat memiliki selisih hingga 3°C lebih panas daripada kawasan pinggiran kota yang memiliki lebih banyak area terbuka hijau. 

Kenaikan suhu tersebut secara langsung menjadi ancaman bagi kebugaran publik karena memperbesar risiko terjadinya serangan panas atau heatstroke, rasa lelah yang berkepanjangan, serta gangguan pada pola tidur yang dapat menurunkan taraf hidup masyarakat.

Dari sisi ekonomi, paparan panas yang sangat ekstrem dapat mengganggu produktivitas para pekerja, terutama bagi sekitar 1,3 juta orang yang memiliki rutinitas pekerjaan di luar ruangan di wilayah Bangkok.

Di tingkat rumah tangga, warga juga dipaksa menghadapi lonjakan biaya pemakaian listrik yang kian mahal. 

Sebanyak 90 persen dari peserta survei mengungkapkan bahwa beban tagihan energi mereka mengalami kenaikan antara 10 hingga 50 persen selama periode gelombang panas berlangsung. 

Kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah yang menetap di pemukiman padat menjadi pihak yang paling terdampak, mengingat banyak dari mereka menempati bangunan dengan sistem pertukaran udara atau ventilasi yang tidak memadai.

Sejalan dengan terus meningkatnya suhu udara, kebutuhan akan perangkat pendingin ruangan atau AC menjadi semakin vital, yang mana hal ini memperlebar jarak kesenjangan dalam akses terhadap fasilitas pendinginan. 

Di sisi lain, penggunaan perangkat pendingin ruangan yang melampaui batas justru membuang sisa panas yang lebih besar ke area terbuka, sehingga menciptakan sebuah lingkaran setan yang terus memperparah suhu panas di lingkungan perkotaan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bangkok #jakarta #ASEAN #cuaca #panas