MAKKAH—Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji, ada satu sisi aktivitas jemaah yang luput dari sorotan.
Bukan di pelataran Masjidilharam, bukan pula di lorong-lorong hotel tempat mereka beristirahat, melainkan di lantai paling atas pemondokan.
Di rooftop hotel itulah sebagian denyut keseharian jemaah terasa berbeda.
Baca Juga: 14 Tahun Menabung dari Recehan, Mukarromah, Penjual Mainan di Jenu Akhirnya Berangkat Haji
Mesin-mesin cuci berdengung, jemuran berbaris diterpa angin gurun, aroma kopi sesekali bercampur dengan asap rokok.
Sementara obrolan ringan mengisi sela-sela penantian pakaian mengering.
Seluruh hotel yang ditempati jemaah haji Indonesia di Makkah memang dilengkapi fasilitas mencuci.
Baca Juga: Usai Arbain di Madinah, Jemaah Haji Tuban Menuju Makkah: Mulai Memasuki Rangkaian Umrah Wajib
Di Tayeb Hotel, pemondokan jemaah kloter 26, 29, dan sebagian kloter 30 yang berada di maktab 60, tersedia tujuh unit mesin cuci untuk jemaah laki-laki dan tujuh unit lainnya untuk perempuan.
Area cuci laki-laki dan perempuan dipisahkan tenda. Namun, dalam praktiknya, mereka kerap kumpul.
Banyak jemaah yang datang berpasangan, baik suami-istri, ibu dan anak, maupun sesama anggota keluarga atau teman sekamar.
Bagi sebagian pasangan suami-istri yang terpisah kamar selama di Makkah, rooftop bahkan menjadi ruang temu.
Di tempat inilah mereka bisa bercakap sejenak di tengah padatnya agenda ibadah.
Tak hanya jemaah. Para petugas haji yang tinggal di kawasan Syisyah sektor 1 juga memanfaatkan lantai teratas hotel lima lantai tersebut untuk mencuci pakaian.
Minggu (10/5), Jawa Pos Radar Tuban turut merasakan pengalaman itu saat mencuci kain ihram bersama Rahmatulla, salah seorang petugas sektor.
Mencuci pakaian di Makkah jelas berbeda dengan di tanah air.
Di bawah terik matahari yang pada siang hari mencapai 39–40 derajat Celsius, pakaian basah hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk benar-benar kering.
Panas menyengat yang berpadu dengan embusan angin kering gurun menjadi “mesin pengering” alami.
Rooftop juga menjelma ruang multifungsi.
Karena hotel tidak menyediakan area khusus merokok, sebagian jemaah memanfaatkannya untuk menikmati sebatang-dua batang rokok.
Ada pula yang menjadikannya tempat bercengkerama sambil menyeruput kopi.
Tak jarang, ketika sang istri sibuk mengurus cucian, para suami memilih duduk santai bersama jemaah lain, berbincang ringan sambil menunggu jemuran mengering.
Begitu istrinya turun kembali ke kamar, mereka masih bertahan di atas, melanjutkan obrolan dan ngudut.
“Saya habis enam batang, jemuran istri sudah kering,” ujar Djarwo Sandi, jemaah kloter 29 asal Desa Sembung, Kecamatan Parengan.
Fasilitas serupa juga tersedia di pemondokan lain.
Fariz Ajyad 2 Hotel dan Dar Al Azhra Hotel, yang ditempati jemaah kloter 27 dan 28, sama-sama menyediakan area mencuci.
Di Fariz Ajyad 2 Hotel, misalnya, tersedia delapan mesin cuci yang ditempatkan di dekat lobi, dengan area tambahan di bagian dalam hotel. “Saya sudah dua kali mencuci,” kata Ketua Kloter 28 Misbahul Munir.(ds)
Editor : Dwi Setiyawan