Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nomor 7 dan 10, Penanda Jalan Jemaah Haji Tuban ke Baitullah

Dwi Setiyawan • Selasa, 12 Mei 2026 | 12:38 WIB
Jemaah kloter 29 Ngatmo Lekidin yang dibopong jemaah lain ketika hendak naik bus Shalawat nomor tujuh di Terminal Syib Amir. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Jemaah kloter 29 Ngatmo Lekidin yang dibopong jemaah lain ketika hendak naik bus Shalawat nomor tujuh di Terminal Syib Amir. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Bagi jemaah haji reguler asal Tuban yang tergabung dalam kloter 26, 28, 29, dan sebagian kloter 30, angka 7 dan 10 punya makna khusus selama berada di Makkah.

Dua angka itu bukan sekadar deretan nomor, melainkan penanda harapan yang saban hari dinanti di depan pemondokan.

Angka tersebut tertera pada lambung bus Shalawat, moda transportasi gratis yang disediakan pemerintah Indonesia untuk mengantar jemaah dari kawasan hotel menuju area terdekat dengan Masjidilharam.

Bagi ribuan tamu Allah dari Tanah Air, terutama yang menempati pemondokan berjarak cukup jauh dari masjid suci tersebut, bus ini menjadi urat nadi mobilitas. Tanpa terkecuali jemaah asal Bumi Ronggolawe.

Baca Juga: Bus Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Arab Saudi, Begini Penjelasan Terbaru dari Kemlu

Bus Shalawat beroperasi selama 24 jam penuh. Namun, ada pengecualian pada Jumat. Layanan dihentikan sementara mulai pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi (WAS).

Karena itu, jemaah laki-laki yang hendak menunaikan salat Jumat di Masjidilharam harus berangkat sebelum layanan dihentikan. 

Sementara untuk perjalanan pulang, mereka mesti menunggu hingga operasional kembali dibuka selepas pukul 14.00.

Jemaah kloter 26, 29, dan sebagian kloter 30 yang menempati Tayeb Hotel di kawasan Syisah maktab 60 harus menempuh jarak sekitar 5,4 kilometer dari Masjidilharam. Dengan bus Shalawat bernomor 7, perjalanan itu rata-rata berdurasi sekitar 20 menit.

Bahkan pada jam-jam padat, terutama selepas salat fardu di Masjidilharam, keterlambatan perjalanan bus Shalawat relatif minim. Tidak lebih dari lima menit.
Bus tersebut mengantar jemaah dari area depan sekitar hotel bernomor 121 itu menuju Terminal Shib Amir.

Dari titik itu, perjalanan masih berlanjut dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menuju pelataran Masjidilharam.

‘’Bus Sholawat hanya mengantar dari area pemondokan ke terminal. Tidak bisa naik dan turun di sembarang tempat,’’ ujar Rahmatulla Ali, salah satu petugas maktab.

Hal serupa dialami jemaah kloter 27 dan 28. Mereka yang tinggal di Fariz Ajyad 2 Hotel dan Dar Al Azhra Hotel mengandalkan bus Shalawat bernomor 10 untuk menuju Masjidilharam maupun kembali ke pemondokan.

Jarak sekitar 4 kilometer dari hotel ke kawasan masjid membuat keberadaan bus ini sangat vital. ‘’Waktu tempuh kurang lebih 10 menit dengan bus Sholawat,’’ ujar Misbahul Munir, ketua kloter 28.

Sementara itu, sejumlah rangkaian jadwal aktivitas diikuti jemaah haji Tuban pascamenuntaskan menuntaskan umrah wajib. Aktivitas tersebut tidak hanya salat fardu di Masjidilharam, namun juga umrah sunah dan ziarah.(ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #terminal #bus #madinah #Haji