Dipastikan, tamu Allah dari Bumi Ronggolawe tersebut memilih tetap bermalam di tenda Mina.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan.
Jarak pemondokan di sektor 1 kawasan Syisah menuju Jamarat dinilai terlalu jauh dan cukup berat ditempuh jemaah.
Terutama mereka yang lanjut usia, berisiko tinggi, dan memiliki keterbatasan fisik.
Keputusan resmi tersebut disepakati dalam musyawarah petugas kloter bersama pimpinan dua kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU), yakni KBIHU Raudloh Singgahan dan KBIHU Jami’atul Hujaj MWC NU, setelah melakukan survei lapangan ke kawasan Jamarat pada Kamis (14/5) pagi.
Baca Juga: Nomor 7 dan 10, Penanda Jalan Jemaah Haji Tuban ke Baitullah
“Kami memutuskan jemaah menginap di tenda Mina,” ujar Kiai Hafidz, pimpinan KBIHU Raudloh Singgahan, di Tayeb Hotel, Makkah.
Survei itu melibatkan petugas kloter, pimpinan KBIHU, ketua regu (karu), dan ketua rombongan (karom).
Tim berangkat dari hotel pukul 06.38 waktu Arab Saudi (WAS) dan tiba di ujung kawasan Jamarat pukul 07.23 WAS atau sekitar 45 menit perjalanan kaki.
Menurut Hafidz, ujung Jamarat masih berjarak sekitar 300 meter dari lokasi Jumrah Ula. Jarak yang sama juga harus ditempuh ketika menuju Jumrah Wusta dan Jumrah Aqabah.
Medan yang dilalui pun tidak ringan. Selain melewati jalan raya beraspal yang naik-turun, jemaah harus menembus Terowongan Abdul Aziz sepanjang sekitar 1,5 kilometer.
“Dengan pertimbangan medan yang memberatkan jemaah, kita memutuskan bermukim di tenda Mina,” tambah pimpinan KBIHU yang memberangkatkan 210 jemaah itu.
Dia menegaskan, keputusan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi yang tidak memasukkan jemaah di zona 3 dan 4 dalam skema tanazul.
Jemaah yang tinggal di kawasan Syisah termasuk dalam kategori itu.
“Kalau kita terpaksa tanazul mandiri dan kembali ke hotel, maka untuk makan harus berbiaya sendiri,” tegasnya.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, skema tanazul hanya diberlakukan bagi jemaah yang tinggal di zona 5. Alasannya, jarak pemondokan mereka ke Jamarat relatif dekat, sekitar 900 hingga 1.000 meter.
Keputusan serupa juga disampaikan pimpinan KBIHU Jami’atul Hujaj MWC NU Plumpang, KH Ihsan Asyari.
Menurut dia, seluruh unsur kloter sepakat menempatkan keselamatan dan kemudahan pendampingan jemaah sebagai prioritas.
“Dengan bermukim di Mina, kita bisa menemani jemaah risiko tinggi di tenda,” ujarnya.
Selain memudahkan pengawasan, keputusan itu juga dinilai lebih efisien karena layanan katering tidak tersedia di hotel selama fase mabit.
Jemaah pun tak perlu bolak-balik menempuh perjalanan jauh.
Kiai Hafidz menambahkan, keberadaan jemaah sehat di Mina juga akan sangat membantu kelompok lansia, disabilitas, dan jemaah risiko tinggi yang mengikuti program murur.
Terutama untuk pelaksanaan badal lempar jumrah.
Pertimbangan lain yang tak kalah penting adalah pada malam 11 Zulhijah, jemaah dijadwalkan kembali bergerak ke Mina Kodim untuk mabit selepas tengah malam.
“Kalau jemaah kembali ke hotel, perjalanan ke Mina Kodim ini lumayan jauh,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, kloter SUB 26, 27, 28, dan 30 belum menyampaikan keputusan resmi terkait pilihan mengikuti tanazul atau tetap bermalam di tenda Mina.(*)
Editor : Dwi Setiyawan