Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketika Lidah Jemaah Haji Tuban Rindu Kuah di Dapur Pemondokan

Dwi Setiyawan • Kamis, 14 Mei 2026 | 17:22 WIB
Setiap pagi, sepanjang jalan pemondokan area Syisah sektor 1 bertebaran pedagang kaki lima yang berjualan kebutuhan dapur, pakaian, hingga pernak-pernik haji. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Setiap pagi, sepanjang jalan pemondokan area Syisah sektor 1 bertebaran pedagang kaki lima yang berjualan kebutuhan dapur, pakaian, hingga pernak-pernik haji. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Selama delapan hari di Madinah dan hampir sepekan berada di Makkah, lidah para jemaah haji asal Tuban bukan hanya diuji dengan cuaca gurun yang ekstrem, namun juga oleh menu katering yang nyaris seragam.

Setiap hari, sajian yang datang ke kamar-kamar pemondokan umumnya lauk tanpa kuah. Menunya, dadar telur, daging goreng, bali ayam, tempe kering, teri goreng, hingga ikan goreng. Sesekali terselip wortel atau terong yang juga diolah kering.

Nyaris tak pernah ada kuah hangat seperti di meja makan rumah-rumah mereka di kampung.

Bagi sebagian jemaah, menu itu cukup mengenyangkan. Namun, setelah hampir dua pekan, kejenuhan mulai terasa. Lidah rindu pada kuliner rumahan, mulai dari sayur asem, sayur bayam, lodeh, urap-urap, becek, pecel, rawon, soto, atau sekadar sambal mentah yang pedas menyengat dengan beragam sayur.

Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Kloter 29 Pilih Mabit di Mina, Hindari Skema Tanazul Mandiri karena Jarak Terlalu Berat

Kerinduan itulah yang memantik kreativitas. Di salah satu kamar Tayeb Hotel, pemondokan jemaah kloter 26, 29, dan 30, aroma semur sesekali menyeruak.

Di sanalah Istikomah Nuriyah, jemaah asal Desa Wotsogo, Kecamatan Jatirogo, mengolah lauk katering yang tak dimakan jemaah se-rombongannya menjadi masakan baru. Ayam dan daging sisa konsumsi rombongannya dia sulap menjadi semur atau rawon instan.

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, perempuan yang akrab disapa Nur itu rupanya sudah melakukan persiapan khusus. Dia membawa aneka bumbu cepat saji dari rumah, lengkap dengan kompor listrik kecil. “Tinggal ngolah, sudah jadi masakan,” ujarnya.

Bagi Nur, memasak di Makkah bukan sekadar memenuhi selera. Aktivitas itu juga menjadi cara berbagi. Hasil olahannya tak hanya dinikmati bersama sang suami. Dia juga kerap membagikannya kepada sesama jemaah dalam rombongannya.

Umi Kulsum, jemaah rombongan 3 kloter 29 juga melakukan hal yang sama. Jemah asal Desa Kedungkebo, Kecamatan Senori itu lebih memilih meracik soto. Ayam katering yang tak termakan diolah ulang dengan bumbu instan yang juga dibawanya dari rumah. “Saya juga bawa bumbu soto cepat saji,” katanya.

Fenomena dapur-dapur kecil dadakan itu muncul karena satu alasan: kebutuhan variasi rasa.

Di tengah padatnya ibadah dan keterbatasan fasilitas, para jemaah rupanya tetap menyisakan ruang untuk menghadirkan cita rasa rumah. Untungnya, kebutuhan bahan pelengkap cukup mudah didapat.

Di sepanjang jalan depan Tayeb Hotel Makkah, pedagang lokal menjajakan beragam kebutuhan dapur. Mulai sayur-mayur hingga jajanan bercita rasa Indonesia.

Sebungkus kerupuk dijual 5 Saudi Riyal (SAR) atau sekitar Rp 24 ribu (kurs 1 SAR= Rp 4.665,89).

Kangkung, bayam, dan kemangi dibanderol 1 SAR per ikat. Telur mentah 1 SAR per butir. Tomat, cabai, hingga empon-empon juga tersedia dengan harga serupa.

Bahkan gorengan seperti ote-ote, tahu isi, dan klepon bisa ditemukan dengan harga 5 SAR untuk tiga buah. Donat pun demikian. Belanja sederhana itu menjadi penyelamat kebosanan.

Sayuran lalu diracik di meja dapur kamar, dengan bumbu kemasan yang dibawa dari tanah air. Dalam hitungan menit, terciptalah tumisan, sayur bening, atau sambal yang membuat santapan terasa lebih akrab di lidah. Tak sedikit pula jemaah yang sengaja membawa cobek dan ulekan dari rumah.

Baca Juga: Cara Naik Haji Tanpa Harus Kaya, Ini Langkah Realistis yang Bisa Dilakukan

Benda sederhana itu menjadi senjata penting untuk menghadirkan sambal mentah—pelengkap yang bagi sebagian orang Indonesia nyaris tak tergantikan.

Bagi Agus Anas, Ketua Rombongan 5 Kloter 29, variasi menu tak harus selalu dimasak sendiri. Dia punya rutinitas membeli semangkuk bakso di depan hotel. Harganya 5 SAR.

Bakso itu kemudian disantap bersama istrinya selagi kuahnya hangat. “Saya dan istri butuh kuahnya biar tidak keringan,” ujar warga Desa Pacing, Kecamatan Parengan itu. Tidak sedikit tamu Allah yang rutin merebus mi instan dan mi gelas yang dibontot dari rumah. Salah satunya Muhammad Nurul M., jemaah dari Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban.

Di tengah padatnya jadwal ibadah, semangkuk kuah ternyata punya makna lebih dari sekadar makanan. Dia menjadi pengobat rindu dan pengingat rumah. Bagi para jemaah haji Tuban, lidah kampung halaman tetap punya tempat tersendiri selama di Tanah Suci.(ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #katering #Haji #makkah