Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gus Mad Blusukan ke Kamar Jemaah Haji Tuban, Cukur Gundul Pakai Plastik Bekas Nasi Katering: Makna Tabarukan kepada Orang Saleh

Dwi Setiyawan • Jumat, 15 Mei 2026 | 15:50 WIB
Pimpinan KBIHU Islahiyah, KH M. Ahmad Ainul Yakin mencukur gundul jemaah hajinya di Tayeb Hotel, Kamis (14/5).
Pimpinan KBIHU Islahiyah, KH M. Ahmad Ainul Yakin mencukur gundul jemaah hajinya di Tayeb Hotel, Kamis (14/5).

RADAR TUBAN–Pemandangan tak biasa terlihat di pemondokan jemaah haji asal Tuban di Makkah sejak Selasa (12/5). 

Satu per satu jemaah laki-laki yang tergabung dalam kloter 26, 27, 28, dan 30 tampak berkepala plontos.

Mereka merupakan jemaah binaan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Umrah (KBIHU) Islahiyah Tuban.

Baca Juga: Musala Basement, Penjaga Stamina Jemaah Haji Tuban Muncul Guyonan Haji Musala hingga Pahala Gemuk-Kurus

Yang memangkas rambut mereka pun bukan tukang cukur biasa, melainkan pimpinan KBIHU Islahiyah, KH M. Ahmad Ainul Yakin atau yang akrab disapa Gus Mad.

Berbekal clipper, Gus Mad aktif berkeliling dari kamar ke kamar jemaah yang menempati Tayeb Hotel di Kawasan Syisah Makkah.

Situasi serbadarurat membuat proses cukur berlangsung sederhana.

Baca Juga: Ketika Lidah Jemaah Haji Tuban Rindu Kuah di Dapur Pemondokan

Tak ada kain kip penutup badan seperti di tempat pangkas rambut.

Sebagai gantinya, tas plastik besar bekas wadah nasi katering disobek lalu dikalungkan ke leher jemaah agar potongan rambut tidak berjatuhan ke pakaian.

Suasana cukur massal dadakan itu pun menjadi pengalaman tersendiri bagi para jemaah.

Selain praktis, momen tersebut juga sarat makna spiritual.

Dwi Slamet, salah satu jemaah, mengatakan, Gus Mad memberikan tiga kali keberkahan bagi jemaah yang dicukur gundul.

Satu kali keberkahan bagi yang hanya dipotong biasa.

“Potong gundul juga sebagai tabarukan dengan mencari berkah melalui perantara orang saleh,” ujarnya.

Dia menegaskan, cukur rambut tersebut tidak berkaitan dengan tahallul, yakni penanda berakhirnya larangan ihram dalam rangkaian ibadah haji maupun umrah.

Sebab, pemotongan rambut dilakukan bukan setelah pelaksanaan sai sebagaimana ketentuan tahallul.

Meski demikian, menurut Dwi, tradisi cukur gundul itu dimaknai sebagai simbol penyucian diri.

“Mereka yang gundul seperti bayi yang terlahir kembali,” katanya.(*)

Editor : Dwi Setiyawan
#Kloter #kbihu #jemaah haji #Haji #cukur rambut