RADARTUBAN - Di tengah padatnya ritme ibadah haji, ada ruang kecil yang diam-diam menjadi tempat singgah paling dirindukan jemaah haji Tuban.
Bukan musala, bukan lobi hotel, melainkan lapak sederhana di atas trotoar depan Al Masair Hotel nomor 108, kawasan Syisyah, Makkah.
Di atas gelaran plastik abu-abu berukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter, aroma kuah bakso mengepul sejak dini hari. Di sampingnya, termos merah berisi bubur kacang hijau hangat siap disendok. Tak ada papan nama.
Tak ada rombong. Tak ada meja-kursi. Bagi sebagian jemaah haji Tuban, tempat itu sudah seperti warung langganan.
Nama lapak tersebut mengikuti sosok di baliknya: Taufik, perantau asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang selama musim haji menjadi penjual bakso kaki lima dengan pelanggan tetap dari berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Buruh Ikat Kangkung Asal Tuban Ini Akhirnya Haji ke Tanah Suci, Kisah Suminah Bikin Haru
Setiap pagi selepas Subuh, tikar plastik biru segera dipenuhi pembeli. Sebagian lesehan menikmati sarapan. Sebagian lagi rela berdiri berkerumun menunggu giliran.
Mereka datang untuk menuntaskan kerinduan kuliner kampung halaman yang sulit ditemukan di Tanah Suci. “Rasanya seperti di rumah,” ujar Yayun Sodin, salah seorang jemaah haji asal Desa Sembung, Kecamatan Parengan sambil mengaduk kuah bakso dalam cup kertas berlapis plastik.
Cup sekali pakai inilah menggantikan mangkuk keramik seperti kedai bakso di tanah air. Begitu juga sendoknya dari plastik sekali pakai. Meski kelasnya PKL, semua serbainstan.
Bahkan, lontong pun dibungkus plastik. “Di Makkah tidak ada pohon pisang. Jadi lontongnya dibungkus plastik,” kata Taufik sambil tersenyum, membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Tuban.
Keterbatasan bahan tak menyurutkan kreativitasnya. Di gelaran kecil itu, berjajar kecap, saus, bawang goreng, dan bihun sebagai pelengkap. Dalam kotak plastik bening tersusun arem-arem, dadar gulung, dan aneka gorengan yang laris diburu jemaah.
Baksonya pun tampil apa adanya. Tanpa rajangan daun bawang, kubis, atau seledri. Bahan-bahan itu sulit ditemukan di negeri gurun tersebut.
Namun, justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan. Di sepanjang kawasan Sektor 1 Syisyah sebenarnya banyak pedagang serupa. Menjual bakso, bubur kacang hijau, hingga gorengan khas Indonesia.
Namun, lapak Taufik punya tempat tersendiri di hati para jemaah. Mungkin, karena racikannya paling akrab dengan lidah masyarakat Indonesia.
Pria 47 tahun itu sudah sepuluh tahun merantau di Makkah. Berjualan menjadi pekerjaan musiman setiap musim haji tiba. Di luar itu, dia menjalani berbagai pekerjaan serabutan untuk menyambung hidup.
Di balik cita rasa yang membuat jemaah rela antre sejak pagi, ada peran Zahra, istrinya. Taufik menyebut sang istri sebagai sosok yang mahir meracik masakan. Zahra berusaha menyesuaikan setiap menu agar sedekat mungkin dengan lidah jemaah Indonesia, khususnya Tuban.
Taufik mengaku berusaha menghadirkan kuliner yang sesuai dengan cita rasa jemaah tanah air, meski beberapa bahan sulit ditemukan. Daun pisang pembungkus lontong, misalnya, nyaris mustahil ditemukan.
Baca Juga: Lima CJH Kuota Tambahan Asal Tuban Siap Berangkat Haji 19 Mei Bersama Kloter 111
Begitu juga kelapa, meski ada harganya bisa mencapai 10 Saudi Riyal per butir atau sekitar Rp 50 ribu. ‘’Ukurannya cuma segini,” katanya sambil mempertemukan ujung telunjuk dan ibu jari.
Meski kelewat mahal, dia tetap membelinya. “Isi dadar gulung tidak bisa diganti bahan lain. Kalau santan masih bisa pakai susu karena lebih murah,” ujarnya.
Ubi jalar dibanderol 10 SAR per kilogram. Daging sapi mencapai 40 SAR per kilogram. Meski begitu, dia memastikan bakso dagangannya menggunakan daging sapi. “Kalau daging unta mahal sekali. Saya tidak pernah beli,” tuturnya.
Setiap pagi, lapaknya buka sekitar pukul 04.00 waktu Arab Saudi. Menjelang pukul 09.00, biasanya dagangan sudah habis.
Bakso berisi dua pentol dijual 5 SAR. Bubur kacang hijau dibanderol dengan harga yang sama. Begitu pula tiga potong gorengan dalam satu kemasan.
Di trotoar kawasan Syisyah itu, semangkuk bakso tak lagi sekadar santapan. Dia menjelma menjadi pengobat rindu kampung halaman yang berjarak ribuan kilometer dari Makkah. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama