Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kurangi Kepadatan Masjidilharam, Bus Shalawat Dihentikan Sementara, Jelang Armuzna Seluruh Jemaah Haji Tuban Mendapat Pemantapan Manasik

Dwi Setiyawan • Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:32 WIB
Bus shalawat nomor 7 yang melayani mobilitas jemaah haji Tuban di kawasan Syisah dari pemondokan ke Masjidilharam. (DWI SETIYAWAN/ RADAR TUBAN)
Bus shalawat nomor 7 yang melayani mobilitas jemaah haji Tuban di kawasan Syisah dari pemondokan ke Masjidilharam. (DWI SETIYAWAN/ RADAR TUBAN)

RADARTUBAN — Layanan semua bus shalawat yang selama ini mengantar jemaah haji Indonesia menuju Masjidil Haram dihentikan sementara mulai kemarin 22/5) pukul 07.00 waktu Arab Saudi (WAS). Penghentian sementara dilakukan menyusul meningkatnya kepadatan di kawasan Masjidilharam menjelang puncak musim haji.

Pengendali Bus Shalawat, Fikri mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah adanya koordinasi dengan pihak keamanan Masjidilharam yang memprediksi lonjakan volume jemaah pada hari-hari menjelang Armuzna.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan keamanan Masjidilharam dan prediksi kepadatan jemaah, seluruh layanan transportasi bus shalawat dari semua rute akan berakhir besok Jumat pukul 07.00,” tulis Fikri yang diunggah di grup WA semua kloter.

Baca Juga: Jemaah Haji Bisa Pinjam Kursi Roda Gratis di Masjidil Haram, Ini Lokasi dan Cara Menggunakannya

Penghentian sementara layanan tersebut hingga selesai fase puncak ibadah haji. Bus shalawat dijadwalkan kembali beroperasi pada Minggu (31/5) pukul 01.00 WAS.

Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengaturan mobilitas jemaah di kawasan pusat Kota Makkah yang diperkirakan semakin padat seiring kedatangan jemaah dari berbagai negara menuju Masjidilharam.

Meski layanan bus shalawat dihentikan sementara, jemaah yang akan melaksanakan umrah perdana tetap mendapatkan fasilitas transportasi sebagaimana mestinya. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan ibadah wajib bagi jemaah yang baru tiba tetap berjalan lancar.

Fikri meminta seluruh jemaah mematuhi ketentuan tersebut dan mulai menyesuaikan aktivitas ibadahnya. Jemaah juga diimbau mengatur waktu keberangkatan ke Masjidilharam lebih bijak serta mengurangi mobilitas yang tidak terlalu mendesak selama masa kepadatan berlangsung.

Penghentian sementara bus shalawat merupakan kebijakan rutin yang biasanya diterapkan menjelang puncak haji untuk mendukung kelancaran arus jemaah dan menjaga keamanan di sekitar Masjidilharam.

Sekarang ini, jutaan jemaah dari berbagai negara mulai terpusat di Makkah sebelum bergerak menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Sementara itu, menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jemaah haji Tuban yang tergabung di Kloter 28 Embarkasi Surabaya (SUB 28) mendapat pemantapan manasik dari pembimbing ibadah kloter di pemondokannya, Hotel Dar Al-Azhar (403), Kamis (21/5) pagi.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WAS itu diikuti seluruh jemaah kloter tersebut. Pemantapan materi Armuzna digelar atas prakarsa KBIHU Busyral Ummah Jenu sebagai upaya memperkuat pemahaman jemaah dalam menghadapi puncak haji yang diperkirakan berlangsung pada 26 Mei mendatang.

Ketua KBIHU Busyral Ummah Jenu, Gus Aziz, yang tahun ini turut mendampingi jemaah berhaji, menyampaikan rasa syukur karena sejauh ini jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan baik dan nyaman.

“Kami bersyukur jemaah dalam kondisi cukup baik dan bisa mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan tertib. Tinggal bagaimana menjaga kesehatan dan kekompakan menjelang Armuzna,” ujarnya.

Acara diawali dengan istighotsah dan tahlil untuk mendoakan keluarga jemaah yang telah meninggal dunia. Setelah itu, Ketua Kloter SUB 28 Miftahul Munir memberikan sambutan sekaligus sejumlah pengingat terkait kesehatan jemaah.

Dalam arahannya, Munir meminta jemaah menjaga kebersihan kamar hotel. Menurut dia, penyakit yang paling banyak dikeluhkan jemaah saat ini adalah flu dan batuk, sehingga kewaspadaan terhadap penularan harus ditingkatkan.

Dia menyarankan agar pendingin ruangan atau AC dimatikan setidaknya sekali sehari dan jendela kamar dibuka agar sirkulasi udara serta paparan sinar matahari dapat masuk dengan baik.

“Setiap kamar diisi empat sampai lima orang. Kalau ada satu yang sakit dan tidak memakai masker, penularannya akan cepat,” tegasnya.

Selain itu, jemaah juga diingatkan memanfaatkan fasilitas hotel yang tersedia. Banyak jemaah, menurutnya, belum mengetahui bahwa sprei, sarung bantal, maupun handuk dapat diganti dengan meminta kepada petugas hotel.

Pembimbing Ibadah Kloter 28, Siswahono menegaskan bahwa rangkaian utama ibadah haji sesungguhnya belum dimulai. Dia mengingatkan jemaah agar mempersiapkan diri secara fisik maupun mental menghadapi wukuf di Arafah.

Menurut dia, persiapan Armuzna nantinya dimulai sejak dari hotel, yakni dengan mandi sunah ihram, melaksanakan salat sunah dua rakaat di mushala hotel, kemudian berniat ihram haji sebelum berangkat menuju Arafah.

Dalam sesi materi, Gus Aziz juga memberikan penjelasan lebih rinci mengenai berbagai larangan selama ihram yang harus dipahami dan dihindari jemaah agar tidak menimbulkan pelanggaran ataupun kewajiban membayar dam.

Pemantapan manasik tersebut ditutup dengan doa bersama. Seluruh jemaah memohon kemudahan dalam menjalani rangkaian ibadah haji serta berharap memperoleh predikat haji mabrur.

Rombongan jemaah haji di KBIHU Al Fajri Tuban juga mulai memantapkan persiapan rangkaian Tarwiyah, yakni ibadah sunah berupa mabit atau bermalam di Mina pada 8 Zulhijah sebelum jemaah bergerak menuju Arafah untuk menjalani wukuf pada 9 Zulhijah.

Rencananya, jemaah Al Fajri akan meninggalkan Kota Makkah menuju Mina pada 7 Zulhijah selepas Magrib. Persiapan keberangkatan tidak hanya difokuskan pada kesiapan fisik, tetapi juga pemantapan mental dan spiritual jemaah.

Tim pembimbing Al Fajri menekankan pentingnya Tarwiyah sebagai momentum perenungan diri sebelum memasuki fase paling sakral dalam ibadah haji. Jemaah diminta mengurangi aktivitas yang menguras tenaga dan lebih banyak memperkuat refleksi batin.

Pembimbing KBIHU Al Fajri, Saiun Ngalim menjelaskan, bahwa Tarwiyah bukan sekadar perpindahan tempat menuju Mina, melainkan proses pematangan jiwa sebelum jemaah menghadapi puncak perjalanan spiritual di Arafah.

“Tarwiyah menjadi ruang bagi jemaah untuk melakukan refleksi kesadaran, menata niat, serta mengendalikan diri agar tidak bertindak gegabah. Ini adalah momentum untuk merenungkan kembali tujuan hidup dan memperkuat kesadaran spiritual,” ujarnya.

Menurut dia, proses tersebut merupakan bagian dari upaya hijrah batin, yakni perpindahan dari sifat-sifat hayawaniyah menuju kesadaran Ilahi. Jemaah juga diajak memahami bahwa ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan ritual, tetapi juga kesiapan akhlak dan pengendalian diri.

Dalam pembinaan, tim jemaah Al Fajri mengingatkan agar jemaah mampu menahan ego, kesombongan, serta sikap individualistis selama menjalani rangkaian Armuzna. Nilai-nilai itu dinilai penting karena jutaan umat Islam dari berbagai negara akan berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama.

Tarwiyah merupakan sunah Rasulullah SAW. Dalam sejarah pelaksanaan haji, Rasulullah lebih dahulu menuju Mina untuk melakukan persiapan akhir sebelum melaksanakan wukuf di Arafah keesokan harinya.

Berbeda dengan program haji reguler pemerintah, pelaksanaan Tarwiyah tidak masuk dalam fasilitas resmi penyelenggaraan haji. Karena itu, seluruh kebutuhan pelaksanaan Tarwiyah jemaah Al Fajri dibiayai secara mandiri oleh jemaah.

Meski demikian, antusiasme jemaah untuk mengikuti rangkaian sunah tersebut tetap tinggi. Mereka menilai Tarwiyah memberikan kesempatan lebih panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak haji sekaligus memperdalam makna perjalanan spiritual di Tanah Suci.

Selain Saiun Ngalim, pembinaan jemaah juga dilakukan oleh Kasdikin dan Doni Agusta Herwindana yang selama ini mendampingi jemaah Al Fajri dalam berbagai kegiatan orientasi dan penguatan ibadah selama berada di Arab Saudi. (ds)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Bus shalawat #masjidilharam #manasik #armuji #jemaah haji