Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Refleksi Wukuf di Arafah, Jemaah Diajak Muhasabah Diri Cuaca Ekstrem, Dilarang Keluar Tenda Mulai Pukul 10 hingga 16

Dwi Setiyawan • Rabu, 27 Mei 2026 | 16:03 WIB
Jemaah haji Tuban di tenda markaz 60 Padang Arofah mendengar kutbah wukuf dari KH Ihsan Asyari pada Selasa (26/5) setelah duhur WAS. Dalam materi kutbahnya, jemaah diajak merenung, mengenali diri, memohon ampun, dan menata langkah untuk menjadi haji mambrur. (DWI SETIYAWN/RADAR TUBAN)
Jemaah haji Tuban di tenda markaz 60 Padang Arofah mendengar kutbah wukuf dari KH Ihsan Asyari pada Selasa (26/5) setelah duhur WAS. Dalam materi kutbahnya, jemaah diajak merenung, mengenali diri, memohon ampun, dan menata langkah untuk menjadi haji mambrur. (DWI SETIYAWN/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Suasana khusyuk menyelimuti seluruh tenda jemaah haji di Arafah pada Selasa (26/5) atau 9 Zulhijah. Tanpa terkecuali tenda tamu Allah dari Tuban yang tergabung di kloter SUB 26, 27, 28, 29, dan sebagian 30.

Pada momentum puncak ibadah haji itu digelar kutbah wukuf yang mengajak jemaah haji memperdalam makna spiritual wukuf, sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan alam semesta.

Dalam kutbah wukuf di tenda markaz 68 yang ditempati jemaah dari kloter 28, Saiun Ngalim mengingatkan bahwa wukuf di Arafah bukan sekadar ritual, melainkan momentum meraih Tri Sukses Haji.

Menurut dia, keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian manasik, namun juga dari dampak sosial dan peradaban yang ditinggalkan.

Baca Juga: Jemaah Haji Larut dalam Zikir dan Harapan di Arofah: Katering Dihentikan, Konsumsi Makan Digantikan Ready to Eat 

‘’Sukses pertama adalah sukses ritual, yakni terlaksananya seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat sehingga jemaah meraih haji mabrur,” ujar Ketua PD Muhammadiyah Tuban dalam kutbah wukuf-nya.

Selain itu, dia menyebut adanya sukses ekosistem ekonomi yang tampak dari bergeraknya sektor transportasi, konsumsi, hingga akomodasi selama musim haji berlangsung. Aktivitas jutaan jemaah dari berbagai negara dinilai turut menggerakkan roda ekonomi dalam skala besar.

Adapun sukses ketiga adalah sukses peradaban dan keadaban. Menurut Saiun, ibadah haji menjadi simbol persaudaraan universal yang menyatukan umat manusia dalam tauhid dan kesetaraan.

‘’Di Arafah semua manusia berdiri sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan kedudukan, bangsa, ataupun warna kulit,” katanya.

Kutbah wukuf di kloter ini diakhiri dengan salat berjamaah dan doa bersama. Jemaah memanjatkan doa agar diberi keselamatan, kesehatan, serta kemampuan menjadi haji mabrur. Doa juga dipanjatkan bagi keselamatan bangsa Indonesia dan kedamaian umat Islam di seluruh dunia.

Sementara itu, di tenda markaz 60 yang ditempati jemaah haji kloter 29, KH Ihsan Asyari mengajak jemaah memaknai Arafah sebagai tempat para nabi mencapai puncak kesadaran diri dan penghambaan kepada Allah SWT.

Dalam kutbahnya, dia menjelaskan bahwa Arafah merupakan tempat yang sarat dengan perjalanan spiritual para nabi. Nabi Adam, menurutnya, mencapai kesadaran diri setelah bertahun-tahun bermunajat dan memohon ampun kepada Allah di tempat tersebut.

Demikian pula Nabi Ibrahim AS yang memperoleh keteguhan menjalankan perintah penyembelihan Nabi Ismail AS.

‘’Bahkan Nabi Muhammad SAW juga mencapai puncak kemakrifatan di Arafah. Karena itu dikatakan al-hajju Arafah, inti haji adalah wukuf di Arafah,” tutur pembimbing ibadah kloter 29 itu.

Dia menegaskan, tanpa wukuf di Arafah, ibadah haji tidak sah. Karena itu, Arafah menjadi ruang perenungan terdalam bagi manusia untuk menyadari kelemahan dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Kiai Ihsan juga mengingatkan jemaah tentang berbagai bentuk dosa yang sering kali luput disadari, mulai dari kesalahan kepada sesama manusia, keluarga, guru, murid, hingga dosa terhadap alam semesta akibat perilaku manusia yang merusak.

‘’Arafah adalah tempat terbaik untuk bertafakur, bermuhasabah, memperbanyak istighfar, memelas diri, dan berdoa kepada Allah SWT,” ujarnya.

Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Bersiap Menuju Arafah Bersiap Jalani Rangkaian Armuzna

Di tengah hamparan Padang Arafah yang dipenuhi jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, kutbah-kutbah itu menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk kembali mengenali diri dan mendekat kepada Allah.

Sementara itu, pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah mengeluarkan instruksi khusus kepada seluruh pengawas pusat perhotelan dan petugas layanan haji agar membatasi aktivitas jamaah di luar tenda saat puncak wukuf di Arafah.

Kebijakan ini diterapkan menyusul tingginya suhu udara yang diperkirakan terjadi pada musim haji tahun ini.

Dalam instruksi yang disampaikan kepada para petugas, jemaah  diminta tidak meninggalkan perkemahan pada 9 Zulhijah 1447 Hijriah atau saat pelaksanaan wukuf di Arafah, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat.

Pembatasan tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan jemaah dari risiko paparan panas ekstrem yang dapat memicu kelelahan hingga serangan heatstroke.

Kementerian Haji menegaskan, seluruh fasilitas pendukung ibadah harus disiapkan di dalam tenda. Pengeras suara dan layar siaran diwajibkan tersedia agar jemaah tetap dapat mengikuti kutbqh  Arafah serta pelaksanaan salat Zuhirdan Ashar berjemaah tanpa harus keluar dari area perkemahan.

“Kami mengimbau jemaah melaksanakan salat di dalam tenda demi keselamatan mereka,” tulis salah satu poin instruksi yang diterima petugas layanan haji.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya mitigasi menghadapi cuaca panas yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius otoritas Saudi saat musim haji.

Pada siang hari, suhu di kawasan Arafah diperkirakan dapat menembus lebih dari 45 derajat Celcius. 

Selain pembatasan mobilitas jemaah, para petugas pusat layanan juga diminta aktif melakukan pengawasan dan memastikan aturan tersebut dipatuhi.

Sosialisasi terkait bahaya paparan sinar matahari langsung terus digencarkan kepada jemaah untuk mencegah kasus kelelahan akibat panas.

Petugas haji Indonesia juga diingatkan untuk memperkuat edukasi kepada jemaah, terutama kelompok lanjut usia dan berisiko tinggi, agar memperbanyak konsumsi air, mengurangi aktivitas fisik di luar tenda, serta memanfaatkan waktu wukuf untuk memperbanyak doa dan ibadah dari dalam perkemahan.

Wukuf di Arafah merupakan puncak ibadah haji yang diikuti jutaan jemaah dari berbagai negara.

Pada momentum tersebut, jamaah berkumpul di Padang Arafah sejak tergelincir matahari hingga menjelang magrib untuk berdoa dan bermunajat. (ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #arafah #Haji #ibadah