RADARTUBAN - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan potensi meningkatnya eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina di tengah ancaman terbaru Moskow untuk memperluas serangan militer.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, mendesak seluruh pihak menahan diri dan kembali mengedepankan jalur diplomasi guna menghentikan penderitaan warga sipil akibat perang berkepanjangan.
“Saya sangat mendesak semua pihak untuk menahan diri, melanjutkan negosiasi, dan mengakhiri penderitaan,” ujar Turk dalam pernyataan resminya, Kamis.
Menurut Turk, eskalasi konflik yang semakin berbahaya telah memicu lonjakan jumlah korban sipil sepanjang awal 2026.
Data PBB mencatat jumlah warga sipil yang tewas maupun terluka di Ukraina selama Januari hingga April 2026 meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Mukaffi Makki Resmi Gabung PPP, Tinggalkan PBB Usai Konflik Internal
PBB mencatat sebanyak 815 warga sipil meninggal dunia dan 4.174 lainnya mengalami luka-luka dalam empat bulan pertama tahun ini.
Pada periode yang sama tahun 2025, korban sipil tercatat sebanyak 682 orang meninggal dan 3.453 terluka. Mayoritas korban berada di wilayah yang dikuasai Ukraina.
Turk turut menyoroti sejumlah serangan besar dalam beberapa pekan terakhir, termasuk serangan terhadap gedung apartemen di Kiev pada 13-14 Mei yang dilaporkan menewaskan 24 warga sipil serta melukai puluhan lainnya.
Selain itu, ia juga menyinggung serangan Ukraina terhadap kompleks pendidikan di Starobilsk yang saat ini berada di bawah kendali Rusia pada 21-22 Mei. Berdasarkan laporan otoritas Rusia, insiden tersebut menyebabkan 21 orang tewas dan 44 lainnya luka-luka.
Kantor HAM PBB menyebut informasi yang tersedia menunjukkan sejumlah warga sipil, termasuk pelajar, menjadi korban dalam serangan tersebut.
“Hukum humaniter internasional mewajibkan seluruh pihak yang terlibat konflik mengambil langkah pencegahan maksimal untuk melindungi warga sipil. Itu bukan sekadar rekomendasi, tetapi kewajiban hukum yang mengikat,” tegas Turk.
Ia juga menyoroti ancaman pejabat Rusia yang disebut akan meningkatkan intensitas serangan di Kiev setelah rentetan serangan terbaru terjadi.
Di sisi lain, Turk mengecam serangan terhadap personel dan fasilitas kemanusiaan yang terjadi dalam konflik tersebut. Ia meminta investigasi independen dilakukan atas seluruh kasus kematian dan luka-luka warga sipil, baik di Ukraina maupun Rusia.
“Kami menyesalkan jatuhnya korban sipil di kedua belah pihak,” katanya.
Turk mendesak Rusia dan Ukraina segera melakukan penyelidikan yang cepat, independen, dan efektif terhadap setiap dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional serta memastikan pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni