RADARTUBAN - Di sela-sela rangkaian ibadah haji, ribuan jemaah Indonesia memanfaatkan waktu untuk berziarah ke Makam Ma’la atau Jannatul Mu’alla, kompleks pemakaman bersejarah yang tidak jauh dari Masjidilharam.
Bagi sebagian besar jemaah haji asal Tuban, kunjungan ke Ma’la memiliki makna yang mendalam.
Selain mendoakan para penghuni makam, mereka menyempatkan diri bertahlil di pusara almarhum KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, ulama kharismatik asal Sarang, Rembang, yang wafat di Makkah pada Agustus 2019 saat menunaikan ibadah haji.
Berikut ulasan Ustad Aan Abuel Hasan, salah peziarah yang disampaikan dengan gaya tutur kepada Jawa Pos Radar Tuban. Ulasan tersebut terkait jejak pemikiran dan keteladanan ulama yang selama hidupnya dikenal sebagai penjaga kebijaksanaan, pemersatu umat, sekaligus guru bangsa itu.
Baca Juga: Di Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Rawat Tradisi Tahlil-Salawat ala NU
Mengapa bangsa yang dikenal ramah dan menjunjung gotong royong justru semakin mudah terpecah karena perbedaan? Mengapa masyarakat yang selama berabad-abad hidup berdampingan kini kerap terjebak dalam pertengkaran akibat pilihan politik, pandangan keagamaan, bahkan unggahan di media sosial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di tengah menguatnya polarisasi sosial yang menggerus ruang dialog dan mempersempit rasa saling percaya di antara sesama warga bangsa.
Kita menyaksikan bagaimana perbedaan yang semestinya menjadi kekayaan sering berubah menjadi sumber kecurigaan. Media sosial mempercepat penyebaran informasi, tetapi tidak selalu memperkuat kebijaksanaan.
Orang semakin mudah memberikan penilaian, namun semakin sulit memahami. Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan mendengar dan menghargai pandangan yang berbeda.
Dalam situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pendidikan yang mencerdaskan pikiran. Indonesia membutuhkan pendidikan yang membentuk hati. Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juga manusia yang mampu menghormati sesama, mengendalikan ego, dan memandang perbedaan sebagai bagian alami dari kehidupan.
Di sinilah pemikiran K.H. Maimoen Zubair atau Mbah Moen menemukan relevansinya. Sosok ulama kharismatik dari Sarang, Rembang, itu tidak hanya dikenal karena keluasan ilmu fikih dan kedalaman penguasaan kitab kuning. Beliau juga dikenang sebagai pribadi yang mampu menjembatani berbagai perbedaan tanpa kehilangan keteguhan prinsip.
Rumah dan pesantren yang diasuhnya menjadi ruang perjumpaan bagi beragam kalangan. Tokoh agama, pejabat negara, akademisi, politisi, masyarakat biasa, bahkan mereka yang berbeda pandangan sekalipun datang untuk bersilaturahmi. Semua diterima dengan keramahan yang sama.
Perbedaan tidak menjadi alasan untuk menjaga jarak, apalagi memutus hubungan. Dalam diri Mbah Moen, masyarakat melihat contoh nyata bahwa keluasan ilmu melahirkan keluasan hati.
Bagi Mbah Moen, keberagaman bukan persoalan yang harus diselesaikan, melainkan kenyataan yang harus dipahami. Perbedaan agama, budaya, bahasa, organisasi, dan pandangan merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia.
Karena itu, tugas manusia bukan menghapus perbedaan, melainkan membangun cara hidup yang memungkinkan perbedaan tumbuh dalam suasana saling menghormati.
Pandangan tersebut lahir dari pemahaman Islam yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai penting dalam kehidupan sosial. Keteguhan dalam keyakinan tidak pernah dipahami sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Sebaliknya, semakin mendalam pemahaman seseorang terhadap agamanya, semakin besar tanggung jawabnya untuk menebarkan kemaslahatan dan menjaga martabat sesama manusia.
Dari sinilah muncul gagasan yang sangat penting bagi Indonesia saat ini: pendidikan hati. Pendidikan hati bukan sekadar mengajarkan sopan santun atau etika formal. Pendidikan hati adalah proses pembentukan karakter yang menumbuhkan empati, kasih sayang, penghormatan, dan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang harus dijaga.
Dalam pendidikan hati, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual atau prestasi akademik. Ukuran yang tidak kalah penting adalah kemampuan menghargai orang lain, kesediaan berdialog, serta kematangan dalam menyikapi perbedaan.
Orang yang berilmu tetapi gemar merendahkan sesama belum dapat disebut berhasil dalam pendidikan. Sebaliknya, orang yang mampu menghadirkan kedamaian di tengah perbedaan menunjukkan bahwa ilmu telah menyatu dengan akhlaknya.
Pendidikan hati melahirkan karakter yang inklusif. Inklusivitas merupakan sikap terbuka yang menerima kehadiran pihak lain sebagai bagian dari kehidupan bersama tanpa harus mengorbankan keyakinan yang dimiliki. Sikap ini berbeda dari sekadar toleransi pasif.
Toleransi sering dimaknai sebagai membiarkan orang lain berbeda. Inklusivitas melangkah lebih jauh, yaitu menghormati, melibatkan, dan bekerja sama dengan mereka yang berbeda demi terwujudnya kemaslahatan bersama.
Nilai inklusivitas inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan Indonesia. Sebagai bangsa yang terdiri atas berbagai agama, suku, budaya, dan kelompok sosial, Indonesia tidak mungkin dipersatukan oleh keseragaman. Yang dapat menjaga persatuan adalah kesediaan seluruh elemen bangsa untuk saling menghormati dan bekerja sama dalam kerangka kebangsaan yang sama.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan harus kembali pada misi dasarnya, yaitu memanusiakan manusia. Sekolah, pesantren, keluarga, dan masyarakat perlu menjadi ruang pembelajaran yang menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman, kemampuan berdialog, serta kepedulian terhadap sesama.
Jika nilai-nilai tersebut berhasil ditanamkan, masyarakat tidak akan mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian. Perbedaan pandangan tidak akan berubah menjadi permusuhan. Keragaman budaya tidak akan melahirkan diskriminasi. Sebaliknya, keberagaman akan menjadi sumber kekuatan sosial yang memperkokoh persatuan bangsa.
Warisan terbesar Mbah Moen sesungguhnya bukan hanya ilmu yang beliau ajarkan, melainkan teladan tentang bagaimana menjadi Muslim yang teguh dalam keyakinan sekaligus terbuka dalam pergaulan. Beliau menunjukkan bahwa keislaman yang mendalam tidak melahirkan eksklusivisme, tetapi justru menghadirkan penghormatan kepada sesama manusia.
Mbah Moen telah berpulang, tetapi pesan yang beliau tinggalkan tetap hidup dan semakin relevan bagi Indonesia hari ini: bangsa ini tidak akan dijaga oleh mereka yang paling keras suaranya, melainkan oleh mereka yang paling luas hatinya. Sebab Indonesia lahir dari keberagaman, tumbuh dalam keberagaman, dan hanya akan tetap kokoh apabila keberagaman itu dirawat dengan ilmu, akhlak, serta penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pertentangan, pendidikan hati bukan sekadar pilihan. Ia adalah kebutuhan mendesak untuk menjaga Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh anak bangsa. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama